Tampilkan postingan dengan label AL-QUR'AN dan FISIKA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label AL-QUR'AN dan FISIKA. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 Mei 2013

LAJU CAHAYA: NIKMAT MANA YANG KAMU DUSTAKAN?

TAHUKAH Sebenarnya kita tak bisa mendeteksi masa kini? Yg kita dengar, yg kita lihat, yg kita raba & rasa, sesungguhnya masa lalu. Mentari yg kita liat saat ini sebnarnya mentari 8,3 menit yg lalu.. Pluto yg kita liat nanti malam..pluto 4 hari yg lalu…dan jika nanti malam anda sempat melihat bintang..proxima (alfa) centauri bintang terdekat dr tata surya.. yg anda lihat alfa centauri bulan Mei 2006. Koq bisa begitu?

 Kita bisa melihat sebuah benda, karena ada cahaya yang datang (langsung atau dipantulkan) dari benda tersebut ke mata kita dan itu membutuhkan waktu..Kita mungkin sudah tahu laju cahaya; yaitu 300 juta meter dalam 1 detik… Untuk mudahnya andaikan kita menaiki pesawat yg lajunya sama dengan laju cahaya..maka pesawat kita mampu memutari khatulistiwa bumi 7,5 x dalam 1 detik… Artinya pesawat seperti itu jk dipakai menuju matahari butuh waktu 8,3 menit..dipakai ke pluto butuh waktu 4,25 hari dan dipakai ke alfa centauri butuh waktu 4,3 tahun….. 

Bagaimana dengan obyek2 di sekitar kita? Jika saat ini dihadapan anda buah hati anda berada 3 meter di hadapan anda, maka sesungguhnya wajah yg anda lihat bukan wajah buah hati anda sekarang..tetapi wajah masa lalunya 0,00000001 detik yang lalu….. Allah telah membuat saraf dan indera kita tak mampu menganalisa waktu sekecil ini sehingga kita merasa itu sebagai 0 detik alias kita merasa melihat masa kini .

SUBHANALLAH…. kelemahan yg diberikan Allah kepada kita sesungguhnya adalah nikmat yg berhubungan dengan kefitraan kita.. Kalau semua hakekat alam tersaji di depan mata kita dengan jelas… maka kita mungkin tidak akan menjumpai keindahan… Dengan akal yg diberikan kita mengungkap sebagian kecil dari ilmu Allah itu….. Lantas bagaimana jika Allah menakdirkan bahwa mulai besok hari 8 syawal 1431 H Laju cahaya tidak secepat sekarang, misalnya di bawah laju bunyi? Banyak sekali kekacauan yg akan terjadi di bumi ini.

Maka Nikmat Robb mu yang manakah yang kamu dustakan? Ada 31 ayat yg berbunyi demikian dalam surah Ar Rahman Pantaskah kita berburuk sangka kepada Allah?

Senin, 18 Februari 2013

MUKJIZAT HADITS JARAK ANTARA DUA PINTU SURGA

Sudah banyak Mukzijat Rasullullah SAW yang telah di buktikan dengan teknologi zaman sekarang. Dan ini adalah salah satunya yaitu JARAK ANTARA DUA PINTU SURGA. Padahal ini adalah perkataan dari seorang yang tidak mengenal baca tulis sebelumnya. Subhanallah. Berita JARAK ANTARA DUA PINTU SURGA ini telah shahih dari hadits Abu Hurairah radhiallahu'anhu bahwa:
Nabi shallallahu'alaihi wa sallam bersabda:

 وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ إِنَّ مَا بَيْنَ الْمِصْرَاعَيْنِ مِنْ مَصَارِيعِ الْجَنَّةِ لَكَمَا بَيْ...نَ مَكَّةَ وَهَجَرٍ أَوْ كَمَا بَيْنَ مَكَّةَ وَبُصْرَى

 “Demi Dzat yang jiwaku ada ditangan-Nya! Sungguh jarak antara dua pintu (yang ada daun pintunya) dari pintu-pintu surga seperti antara Makkah dengan Hajar, atau seperti antara Makkah dengan Bushra.” (HR. Muslim no. 287)

Apa yang disabdakan Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam 14 abad yang lalu, ketika menggambarkan LUASNYA PINTU SURGA. Luasnya sama seperti jarak antara Makkah dan Hajar atau sama dengan jarak antara Makkah dan Bushra [Jarak Makkah-Hajar = Jarak Makkah-Bushra]. Kini pembuktian jarak yang telah di sebutkan di atas, dapat di hitung dengan menggunakan SATELIT pada masa kini. Hari ini Google Earth membuktikannya, bahwa benar jarak Makkah-Hajar tepat sama dengan jarak Makkah-Bushra, persis keduanya memiliki jarak yang sama 1.272 km. Subhanallah...!!! satu lagi mukjizat sabda Nabi Muhammad SAW, yang telah dibuktikan dengan teknologi hari ini.

Sabtu, 08 Desember 2012

AL QUR'AN MENJAWAB TEKA- TEKI PEMBANGUNAN PIRAMIDA

Sejak lama para ilmuwan bingung bagaimana cara sebuah piramida dibangun. Hal ini karena teknologi mengangkat batu-batu besar yang bisa mencapai ribuan kilogram ke puncak-puncak bangunan belum ditemukan di zamannya. Apa rahasia di balik pembangunan piramida ini? Times edisi 1 Desember 2006, menerbitkan berita ilmiah yang mengkonfirmasi bahwa Firaun menggunakan tanah liat untuk membangun piramida! 

Menurut penelitian tersebut disebutkan bahwa batu yang digunakan untuk membuat piramida adalah tanah liat yang dipanaskan hingga membentuk batu keras yang sulit dibedakan dengan batu aslinya.Para ilmuwan mengatakan bahwa Firaun mahir dalam ilmu kimia dalam mengelola tanah liat hingga menjadi batu. Dan teknik tersebut menjadi hal yang sangat rahasia jika dilihat dari kodifikasi nomor di batu yang mereka tinggalkan. 

Profesor Gilles Hug, dan Michel Profesor Barsoum menegaskan bahwa Piramida yang paling besar di Giza, terbuat dari dua jenis batu: batu alam dan batu-batu yang dibuat secara manual alias olahan tanah liat. Dan dalam penelitian yang dipublikasikan oleh majalah “Journal of American Ceramic Society” menegaskan bahwa Firaun menggunakan jenis tanah slurry untuk membangun monumen yang tinggi, termasuk piramida. Ini karena tidak mungkin bagi seseorang untuk mengangkat batu berat ribuan kilogram. Sementara untuk dasarnya, Firaun menggunakan batu alam. Lumpur tersebut merupakan campuran lumpur kapur di tungku perapian yang dipanaskan dengan uap air garam dan berhasil membuat uap air sehingga membentuk campuran tanah liat. Kemudian olahan itu dituangkan dalam tempat yang disediakan di dinding piramida. Singkatnya lumpur yang sudah diolah menurut ukuran yang diinginkan tersebut dibakar, lalu diletakkan di tempat yang sudah disediakan di dinding piramid.

 Profesor Davidovits telah mengambil batu piramida yang terbesar untuk dilakukan analisis dengan menggunakan mikroskop elektron terhadap batu tersebut dan menemukan jejak reaksi cepat yang menegaskan bahwa batu terbuat dari lumpur. Selama ini, tanpa penggunaan mikroskop elektron, ahli geologi belum mampu membedakan antara batu alam dan batu buatan. Dengan metode pembuatan batu besar melalui cara ini, sang profesor membutuhkan waktu 10 hari hingga mirip dengan batu aslinya. 

Sebelumnya, seorang ilmuwan Belgia, Guy Demortier, telah bertahun-tahun mencari jawaban dari rahasia di balik pembuatan batu besar di puncak-puncak piramida. Ia pun berkata, “Setelah bertahun-tahun melakukan riset dan studi, sekarang saya baru yakin bahwa piramida yang terletak di Mesir dibuat dengan menggunakan tanah liat.” Penemuan oleh Profesor Prancis Joseph Davidovits soal batu-batu piramida yang ternyata terbuat dari olahan lumpur ini memakan waktu sekitar 20 tahun. Sebuah penelitian yang lama tentang piramida Bosnia, "Piramida Matahari" dan menjelaskan bahwa batu-batunya terbuat dari tanah liat! Ini menegaskan bahwa metode ini tersebar luas di masa lalu. Sebuah gambar yang digunakan dalam casting batu-batu kuno piramida matahari mengalir di Bosnia, dan kebenaran ilmiah mengatakan bahwa sangat jelas bahwa metode tertentu pada pengecoran batu berasal dari tanah liat telah dikenal sejak ribuan tahun yang lalu dalam peradaban yang berbeda baik Rumania atau Firaun! 

 Alquran Ternyata Lebih Dulu Punya jawaban Jika dipahami lebih dalam, ternyata Alquran telah mengungkapkan hal ini 1400 tahun sebelem mereka mengungkapkannya, perhatikan sebuah ayat dalam Al Quran berikut ini: 

 “Dan berkata Fir'aun: ‘Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui Tuhan bagimu selain aku. Maka bakarlah Hai Haman untukku tanah liat kemudian buatkanlah untukku bangunan yang tinggi supaya aku dapat naik melihat Tuhan Musa, dan Sesungguhnya aku benar-benar yakin bahwa Dia Termasuk orang-orang pendusta."(Al-Qashash:38) Subhanallah! 

Bukti menakjubkan yang menunjukkan bahwa bangunan bangunan raksasa, patung-patung raksasa dan tiang- tiang yang ditemukan dalam peradaban tinggi saat itu, juga dibangun dari tanah liat! Al-Quran adalah kitab pertama yang mengungkapkan rahasia bangunan piramida, bukan para Ilmuwan Amerika dan Prancis. Kita tahu bahwa Nabi saw tidak pergi ke Mesir dan tidak pernah melihat piramida, bahkan mungkin tidak pernah mendengar tentangnya. Kisah Firaun, terjadi sebelum masa Nabi saw ribuan tahun yang lalu, dan tidak ada satupun di muka bumi ini pada waktu itu yang mengetahui tentang rahasia piramida. Sebelum ini, para ilmuwan tidak yakin bahwa Firaun menggunakan tanah liat dan panas untuk membangun monumen tinggi kecuali beberapa tahun belakangan ini. 

Ajaib, 1400 tahun yang lampau, Nabi Muhammad saw, berbilang tahun setelah berakhirnya dinasti Firaun memberitahukan bahwa Firaun membangun monumen yang kelak dinamakan Piramid menggunakan tanah liat. Kenyataan ini sangat jelas dan kuat membuktikan bahwa nabi Muhammad saw tidaklah berbicara sesuai hawa nafsunya saja melainkan petunjuk dari Allah yang menciptakan Firaun dan menenggelamkannya, dan Dia pula yang menyelamatkan nabi Musa Dan Dia pula yang memberitahukan kepada Nabi terakhir-Nya akan hakikat ilmiah ini, dan ayat ini menjadi saksi kebenaran kenabiannya dikemudian hari!

Minggu, 18 November 2012

FENOMENA PETIR DALAM PERSPEKTIF ISLAM

Petir atau halilintar adalah gejala alam yang biasanya muncul pada musim hujan di mana di langit muncul kilatan cahaya sesaat yang menyilaukan biasanya disebut kilat yang beberapa saat kemudian disusul dengan suara menggelegar sering disebut guruh atau geledek. Perbedaan waktu kemunculan ini disebabkan adanya perbedaan antara kecepatan suara dan kecepatan cahaya. Cahaya merambat lebih cepat (186.000 mil / 299.338 kilometer per detik) bila dibandingkan suara (sekitar 700 mil / 1.126 kilometer per jam, bervariasi tergantung temperatur, kelembapan dan tekanan udara). Sehingga suara gemuruh biasanya terdengar beberapa saat setelah kilatan terlihat.

Petir merupakan gejala alam yang bisa kita analogikan dengan sebuah kapasitor raksasa, di mana lempeng pertama adalah awan (bisa lempeng negatif atau lempeng positif) dan lempeng kedua adalah bumi (dianggap netral). Seperti yang sudah diketahui kapasitor adalah sebuah komponen pasif pada rangkaian listrik yang bisa menyimpan energi sesaat (energy storage). Petir juga dapat terjadi dari awan ke awan (intercloud), di mana salah satu awan bermuatan negatif dan awan lainnya bermuatan positif. 

Petir terjadi karena ada perbedaan potensial antara awan dan bumi atau dengan awan lainnya. Proses terjadinya muatan pada awan karena dia bergerak terus menerus secara teratur, dan selama pergerakannya dia akan berinteraksi dengan awan lainnya sehingga muatan negatif akan berkumpul pada salah satu sisi (atas atau bawah), sedangkan muatan positif berkumpul pada sisi sebaliknya. Jika perbedaan potensial antara awan dan bumi cukup besar, maka akan terjadi pembuangan muatan negatif (elektron) dari awan ke bumi atau sebaliknya untuk mencapai kesetimbangan. Pada proses pembuangan muatan ini, media yang dilalui elektron adalah udara. Pada saat elektron mampu menembus ambang batas isolasi udara inilah terjadi ledakan suara. Petir lebih sering terjadi pada musim hujan, karena pada keadaan tersebut udara mengandung kadar air yang lebih tinggi sehingga daya isolasinya turun dan arus lebih mudah mengalir. Karena ada awan bermuatan negatif dan awan bermuatan positif, maka petir juga bisa terjadi antar awan yang berbeda muatan.


Kilatan Petir dan Geledek dalam Kacamata Syari’at Islam 

Ada tiga istilah untuk kilatan petir dan geledek yaitu ar ro’du, ash showa’iq dan al barq. Ar ro’du adalah istilah untuk suara petir atau geledek. Sedangkan ash showa’iq dan al barq adalah istilah untuk kilatan petir, yaitu cahaya yang muncul beberapa saat sebelum adanya suara petir. 

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan, ”Dalam hadits marfu’ (sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, pen) pada riwayat At Tirmidzi dan selainnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang ar ro’du, lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, مَلَكٌ مِنْ الْمَلَائِكَةِ مُوَكَّلٌ بِالسَّحَابِ مَعَهُ مخاريق مِنْ نَارٍ يَسُوقُ بِهَا السَّحَابَ حَيْثُ شَاءَ اللَّهُ ”Ar ro’du adalah malaikat yang diberi tugas mengurus awan dan bersamanya pengoyak dari api yang memindahkan awan sesuai dengan kehendak Allah.” (HR. Tirmidzi no. 3117. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih) 

Disebutkan dalam Makarimil Akhlaq milik Al Khoro-ithi, ’Ali pernah ditanya mengenai ar ro’du. Beliau menjawab, ”Ar ro’du adalah malaikat. Beliau ditanya pula mengenai al barq. Beliau menjawab, ”Al barq (kilatan petir) itu adalah pengoyak di tangannya.” Dan dalam riwayat lain dari Ali juga,” Al barq itu adalah pengoyak dari besi di tangannya”.” 

Kemudian Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan lagi, ”Ar ro’du adalah mashdar (kata kerja yang dibendakan) berasal dari kata ro’ada, yar’udu, ro’dan (yang berarti gemuruh, pen). … Namanya gerakan pasti menimbulkan suara. Malaikat adalah yang menggerakkan (menggetarkan) awan, lalu memindahkan dari satu tempat ke tempat lainnya. Dan setiap gerakan di alam ini baik yang di atas (langit, pen) maupun di bawah (bumi, pen) adalah dari malaikat. Suara manusia dihasilkan dari gerakan bibir, lisan, gigi, lidah, dan dan tenggorokan. Dari situ, manusia bisa bertasbih kepada Rabbnya, bisa mengajak kepada kebaikan dan melarang dari kemungkaran. Oleh karena itu, ar ro’du (suara gemuruh) adalah suara yang membentak awan. Dan al barq (kilatan petir) adalah kilauan air atau kilauan cahaya. … ”(Majmu’ Al Fatawa, 24/263-264.) 

Ketika menafsirkan surat al Baqarah ayat 19, As Suyuthi mengatakan bahwa ar ra’du adalah malaikat yang ditugasi mengatur awan. Ada juga yang berpendapat bahwa ar ro’du adalah suara malaikat. Sedangkan al barq (kilatan petir) adalah kilatan cahaya dari cambuk malaikat untuk menggiring mendung.(Tafsir Al Jalalain, surat Al Baqarah ayat 19, Mawqi’ At Tafasir) 

Kesimpulan: 
Ar ro’du kadang dimaknakan dengan malaikat yang ditugasi mengatur awan. Ada pula yang berpendapat bahwa ar ro’du (geledek) adalah suara malaikat. Sedangkan al barq atau ash showa’iq adalah kilatan cahaya dari cambuk malaikat yang digunakan untuk menggiring mendung. Karena apa yang diperbuat oleh malaikat ini termasuk ranah ghoib, maka kewajiban kita hanyalah mengimaninya saja, dan tidak boleh mengingkari.

Do’a Ketika Mendengar Petir 

Dari ‘Ikrimah mengatakan bahwasanya Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma tatkala mendengar suara petir, beliau mengucapkan, سُبْحَانَ الَّذِي سَبَّحَتْ لَهُ ”Subhanalladzi sabbahat lahu” (Maha suci Allah yang petir bertasbih kepada-Nya). 

Lalu beliau mengatakan, ”Sesungguhnya petir adalah malaikat yang meneriaki (membentak) untuk mengatur hujan sebagaimana pengembala ternak membentak hewannya.”(Adabul Mufrod no. 722, dihasankan oleh Syaikh Al Albani)

Apabila ’Abdullah bin Az Zubair mendengar petir, dia menghentikan pembicaraan, kemudian mengucapkan, سُبْحَانَ الَّذِيْ يُسَبِّحُ الرَّعْدُ بِحَمْدِهِ وَالْمَلَائِكَةُ مِنْ خِيْفَتِهِ “Subhanalladzi yusabbihur ro’du bi hamdihi wal mala-ikatu min khiifatih” (Mahasuci Allah yang petir dan para malaikat bertasbih dengan memuji-Nya karena rasa takut kepada-Nya). 
Kemudian beliau mengatakan, إِنَّ هَذَا لَوَعِيْدٌ شَدِيْدٌ لِأَهْلِ الأَرْضِ ”Inilah ancaman yang sangat keras untuk penduduk suatu negeri”.(Adabul Mufrod no. 723, dihasankan oleh Syaikh Al Albani) 

Jadi, do’a yang bisa dibaca ketika mendengar geledek atau suara petir adalah bacaan: “Subhanalladzi yusabbihur ro’du bi hamdihi wal mala-ikatu min khiifatih” (Mahasuci Allah yang petir dan para malaikat bertasbih dengan memuji-Nya karena rasa takut kepada-Nya).

Rabu, 31 Oktober 2012

BLACK BOX DALAM TUBUH MANUSIA QS.YASIN 78-79

Petikan dari QS. Yasin Ayat 78-79 sebagai berikut; 
"Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami; dan dia lupa kepada kejadiannya; ia berkata: "Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang, yang telah hancur luluh?" Katakanlah: "Ia akan dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakannya kali yang pertama. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk."

Kemudian diperkuat dan dijelaskan dalam HR. Al Bukhari, Nomor : 4935; " Tiada bagian dari tubuh manusia kecuali akan hancur (dimakan tanah) kecuali satu tulang, yaitu tulang ekor, darinya manusia dirakit kembali pada hari kiamat."

 Belasan abad lamanya, hadits tersebut menjadi hal yang gaib yang tidak mungkin bisa dijelaskan dengan logika. Seiring berjalannya waktu beberapa penelitian ilmiah mampu menjelaskan kebenaran hadits tersebut dikemudian hari.

Han Spemann, Ilmuwan Jerman yang berhasil mendapatkan hadiah nobel bidang kedokteran pada tahun 1935. Dalam penelitiannya ia dapat membuktikan bahwa asal mula kehidupan adalah tulang ekor. Darinyalah makhluk hidup bermula. Dalam penelitiannya ia memotong tulang ekor dari sejumlah hewan melata, lalu mengimplantasikan ke dalam embrio Organizer atau pengorganisir pertama. Pada saat sperma membuahi ovum (sel telur), maka pembentukan janin dimulai. Ketika ovum telah terbuahi (zigot) atau segumpal darah yang telah dijelaskan dalam QS. Al-Alaq ayat ke-2; Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Zigot tersebut terbelah menjadi dua sel dan terus berkembang biak. Sehingga terbentuklah embryonic disk (lempengan embrio) yang memiliki dua lapisan. Han Spemann, Ilmuwan Jerman Pertama, External Epiblast yang terdiri dari cytotrophoblasts, berfungsi menyuplai makanan embrio pada dinding uterus, dan menyalurkan nutrisi dari darah dan cairan kelenjar pada dinding uterus. Sedangkan lapisan kedua, Internal Hypoblast yang telah ada sejak pembentukan janin pertama kalinya. Pada hari ke-15, lapisan sederhana muncul pada bagian belakang embrio dengan bagian belakang yang disebut primitive node (gumpalan sederhana). Dari sinilah beberapa unsure dan jaringan, seperti ectoderm, mesoderm, dan endoderm terbentuk. - Ectoderm, membentuk kulit dan sistem syaraf pusat. - Mesoderm, membentuk otot halus sistim digestive (pencernaan), otot skeletal (kerangka), sistem sirkulasi, jantung, tulang pada bagian kelamin, dan sistem urine (selain kandung kemih), jaringan subcutaneous, sistem limpa, limpa dan kulit luar. - Sedangkan, Endoderm, membentuk lapisan pada sistim digestive, sistem pernafasan, organ-orang yang berhubungan dengan sistem digestive (seperti hati dan pancreas), kandung kemih, kelenjar thyroid (gondok), dan saluran pendengaran. Gumpalan sederhana inilah yang mereka sebut sebagai Tulang Ekor. Pada penelitian lain, Han mencoba menghancurkan tulang ekor tersebut. Ia menumbuknya dan merebusnya dengan suhu panas yang tinggi dan dalam waktu yang sangat lama. Setelah menjadi serpihan halus, ia mencoba mengimplantasikan tulang itu pada janin lain yang masih dalam tahap permulaan embrio. Hasilnya, tulang ekor itu tetap tumbuh dan membentuk janin sekunder pada guest body (organ tamu). Meskipun telah ditumbuk dan dipanaskan sedemikian rupa, tulang ini tidak 'hancur'. 

Dr. Othman al Djilani dan Syaikh Abdul Majid juga melakukan penelitian serupa. Pada bulan Ramadhan 1423 H, mereka berdua memanggang tulang ekor dengan suhu tinggi selama 10 menit. Tulang pun berubah, menjadi hitam pekat. Kemudian, keduanya membawa tulang itu ke al Olaki Laboratory, Sana'a, Yaman, untuk dianalisis. Setelah diteliti oleh Dr. al Olaki, profesor bidang histology dan pathologi di Sana'a University, ditemukanlah bahwa sel-sel pada jaringan tulang ekor tidak terpengaruh. Bahkan sel-sel itu dapat bertahan walau dilakukan pembakaran lebih lama. Lebih dari itu berdasarkan penelitian mutakhir, sebagaimana yang disampaikan oleh Jamil Zaini, Trainer Asia Tenggara Kubik Jakarta ketika mengisi acara buka puasa bersama di al Azhar-Solo Baru dengan tajuk, "Inspiring Day; Inspiring The Spirit of Life", tulang ekor atau black box dalam tubuh manusia ini merekam semua perbuatan anak Adam, dari sejak lahir hingga meninggal dunia. Ia merekam semua perbuatan baik-buruk mereka. Dan perbuatan mereka ini akan berpengaruh pada kondisi tulang ekornya. Putih bersih atau hitam kotor. Semakin banyak energy positif atau kebaikan seseorang maka semakin bersih tulang ekornya, dan semakin banyak energy negative atau keburukan seseorang maka semakin hitamlah tulang ekornya. Dari sinilah, balasan pada hari kiamat kelak tidak akan pernah tertukar. 

Dari tulang ekor inilah, manusia akan kembali dicipta, dan mereka akan diberi balasan sesuai dengan kadar amal-amal mereka. Ajaibnya, ini semua sudah disabdakan oleh Nabi berpuluh abad yang lalu. Di dalam HR. Al Bukhari, nomor 4935 dijelaskan; "Tiada bagian dari tubuh manusia kecuali akan hancur (dimakan tanah) kecuali satu tulang, yaitu tulang ekor, darinya manusia dirakit kembali pada hari kiamat." Hadits senada juga diriwayatkan oleh Imam Muslim nomor 2955 Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Shallallâhu alaihi wa sallam bersabda, "Seluruh bagian tubuh anak Adam akan (hancur) dimakan tanah kecuali tulang ekor, darinya tubuh diciptakan dan dengannya dirakit kembali."

Dari petunjuk hadist di atas, Ilmuwan muslim pada paruh kedua abad ke-20 telah mendasarkan pemahaman mereka mengenai kemukjizatan hadis tentang tulang ekor ini pada kaidah pengetahuan yang paling dasar, yaitu "Tulang ekor merupakan bagian pertama yang tumbuh dari janin, biasa disebut dengan primitive streak, yaitu bagian utama yang terbentuk pada minggu ketiga".

Alloh mengingatkan kepada kita melaui firman-Nya dalam QS. Fushshilat ayat ke-53, Akan Kami tunjukkan kepada mereka ayat-ayat (tanda-tanda kekuasaan) Kami pada alam dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelas bagi mereka bahwa Al-Quran itu benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?

FENOMENA GRAVITASI YANG MENAKJUBKAN !!

Oleh Miftachul Hadi (Fisika LIPI)

 إِنَّ اللَّهَ يُمْسِكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ أَنْ تَزُولَا ۚ وَلَئِنْ زَالَتَا إِنْ أَمْسَكَهُمَا مِنْ أَحَدٍ مِنْ بَعْدِهِ ۚ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا
"Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap; dan sungguh jika keduanya akan lenyap tidak ada seorangpun yang dapat menahan keduanya selain Allah. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun." (QS.Faathir, 35:41)
Mengapa kita tetap berpijak di atas permukaan bumi? Mengapa setiap benda yang jatuh selalu menuju pusat bumi? Mengapa bulan tetap mengelilingi bumi dan bumi bersama-sama bulan mengelilingi matahari? Mengapa demikian? Disadari atau tidak, seringkali kita tidak memahami pengalaman kita hidup di dunia ini. Tentang 'sesuatu' yang menyebabkan kita tetap lekat di permukaan bumi. Apakah sesuatu itu? Mengapa sesuatu itu ada? Bagaimana cara ia bekerja?  

Suatu pertanyaan sederhana seringkali memerlukan pemikiran yang mendalam untuk memperoleh jawabannya. Dan mungkin, sedikit sekali yang berupaya sungguh-sungguh, karena hal itu tampaknya sesuatu yang "biasa" dalam kehidupan sehari-hari. Kecuali anak-anak yang polos dan lugu serta ingin tahu yang seringkali mengusik kita dengan pertanyaan-pertanyaan mereka yang spontan tentang segala sesuatu yang mereka lihat dan rasakan. Yang terkadang terkesan lucu namun menyenangkan. Diantaranya mengapa benda jatuh selalu ke "bawah"? Penjelasan yang kita terima seperti mereka juga belumlah tuntas, bahkan mungkin hingga saat ini. Sebenarnya, setiap orang tentu mengalami pengaruh gravitasi. Demikian juga dengan semua benda yang ada di sekitar kita. Walau tanpa kita sadari, semua benda yang terdiri dari partikel materi saling berinteraksi tarik-menarik satu sama lain. Gravitasilah yang memungkinkan kita tetap nyaman tinggal di permukaan bumi dan kita dapat menikmati indahnya cahaya bulan purnama di malam hari, juga kemilaunya sinar matahari di waktu senja dan pagi hari. Tanpa gravitasi, kita semua akan beterbangan "hilang" dalam ruang makrokosmos yang teramat luas akibat rotasi bumi. Tanpa gravitasi, bumi yang kita huni, bulan dan matahari serta planet-planet yang mengisi ruangan jagat raya ini akan berhamburan dalam gerak acak yang tak beraturan. Bersyukurlah kita, bahwasannya Allah telah menciptakan gravitasi sehingga kita pun mengalami proses kehidupan yang harmonis dengan lingkungan alam kita. 

Namun, apakah "gravitasi" itu? Sejauh ini telah banyak usaha yang dilakukan untuk memahami fenomena gravitasi. Sejarah mengatakan, mula pertama gagasan gravitasi dipahami dan dijelaskan oleh tuan Isaac Newton dalam Philosophiae Naturalis Principia Mathematica yang sering juga disebut Principia yang muncul pertama kali tahun 1687 (walaupun sebenarnya gagasan gravitasi tersebut telah diperolehnya 22 tahun sebelumnya) yang antara lain menjelaskan hukum gravitasi universal di samping mengemukakan teori bagaimana benda bergerak dalam ruang dan waktu. Hukum gravitasi universal menjelaskan bagaimana benda berinteraksi tarik-menarik. Gagasan hukum gravitasi universal dapat kita pahami sebagai berikut,"tiap benda dalam jagat raya ditarik ke arah semua benda lain oleh suatu gaya yang makin kuat dengan makin besarnya massa benda-benda itu, dan dengan dekatnya benda itu satu sama lain". Artinya, setiap partikel materi yang berada di dalam jagat raya ini saling tarik-menarik satu sama lain yang besarnya gaya tarik-menarik tersebut bertambah besar bila jaraknya semakin dekat dan kandungan massa dari tiap-tiap partikel materi tersebut bertambah banyak. Meskipun pengalaman kita hidup sehari-hari tidak merasakan hal demikian, hal ini dikarenakan oleh adanya kenyataan bahwa gaya gravitasi itu teramat lemah, sehingga pengaruh yang ditimbulkannya amat kecil untuk dapat kita rasakan. Seiring dengan usaha pemahaman atas gaya interaktif lain yang ada di jagat raya ini, konsep medan telah diperkenalkan oleh ilmuwan fisika masyhur, Michael Faraday pada akhir abad 19 yang berusaha memahami gaya interaktif partikel bermuatan elektrik yang kita kenal sekarang sebagai gaya elektromagnetik (gagasan "partikel" untuk dunia mikroskopis adalah suatu model saja). Konsep medan ini kemudian dibuat umum hingga kemudian diterapkan juga pada gagasan gravitasi tuan Newton, yang dikenal dengan konsep medan gravitasi. Konsep medan gravitasi ini memandang setiap partikel materi sebagai pengubah ruang medan gravitasi. Medan ini beraksi pada setiap partikel materi lain yang berada di dalam medan tersebut, yang seolah-olah "mengerahkan" gaya tarikan gravitasi pada partikel materi tersebut. Medan ini memainkan peranan perantara dalam pemikiran kita mengenai gaya-gaya interaksi di antara partikel-partikel materi. 

Mungkin kita jadi berpikir, bahwa bila setiap partikel materi yang berada dalam medan gravitasi telah berusaha untuk mengerahkan daya tarikan gravitasi pada setiap partikel materi lain, maka terdapat "sesuatu" yang menjadi penghubung sehingga terjadi interaksi antar partikel-partikel materi. Pengenalan konsep kuantum dan penelitian mutakhir dari partikel elementer memungkinkan pemahaman yang jauh lebih baik daripada sebelumnya mengenai mekanisme gravitasi. Hasilnya adalah, diduga ada "partikel interaktif" yang dikenal dengan nama graviton sebagai pembawa gaya gravitasi yang memungkinkan partikel-partikel materi berinteraksi. Partikel interaktif tersebut tidak memiliki massa, bersifat maya-karena belum ada kenyataan eksperimental yang menemukan partikel interaktif tersebut. Karena graviton tidak bermassa, maka sebagai akibatnya ia dapat dipertukarkan pada jarak yang jauh sekali yang meliputi seluruh volume ruang jagat raya. Sebagai ilustrasi, berapa "keliling" jagat raya ini bila dikatakan bahwa di dalamnya terdapat sekitar 100 milyar galaksi yang tiap-tiap galaksi berisi sekitar 100 milyar bintang! Jumlah ini adalah suatu pendekatan saja, boleh jadi jumlah yang sebenarnya melebihi aproksimasi di atas. Sementara itu, dari pengamatan yang dilakukan terdeteksi bahwa antar galaksi saling bergerak menjauhi satu sama lain mirip dengan balon karet yang kita tiup, dengan kecepatan yang semakin bertambah besar dengan bertambah jauhnya jarak antar galaksi. Menurut prediksi, bahkan hal ini akan tetap berlangsung sekitar 5 atau 10 milyar tahun lagi. Meskipun gaya gravitasi mempunyai kekuatan yang lemah bila dibandingkan dengan gaya-gaya lain yang terdapat di jagat raya ini, ia dapat mempunyai kekuatan yang sangat besar, bila kita meninjau suatu misal, sebuah objek langit yang mengalami pemampatan materi dan telah kehilangan energi termonuklirnya yang ia pergunakan untuk melangsungkan hidup, akan mengalami pengerutan yang sangat hebat. Bintang yang ambruk tersebut akan mengerut mencapai ukuran yang sangat kecil karena efek tarikan gravitasinya yang sangat kuat. Objek semacam inilah yang sering kita kenal sebagai lubang hitam, suatu objek yang menjadi perhatian utama saat ini dikarenakan ia memiliki sifat-sifat yang diramalkan dari teori kuantum dan teori relativitas umum, yang aneh, menawan dan menakjubkan. 

Mungkin sulit bagi kita untuk membayangkan terdapatnya objek yang demikian sangat rapat, bila suatu misal, dalam sebuah kelereng yang berdiameter dua cm mengandung sejumlah massa 80 milyar ton! Bintang yang mempunyai massa sekian itu akan terus-menerus mengerut dalam ukuran yang semakin kecil dan semakin rapat. Tarikan gravitasinya bahkan mampu menarik cahaya yang lewat mendekatinya. Struktur atom dan struktur inti lubang hitam tidak lagi seperti yang telah kita kenal dalam teori atom dan teori nuklir, karena tarikan gravitasi telah menarik awan elektron di sekeliling inti dan menembusnya! Sifat-sifat apakah yang terjadi dan hukum bagaimanakah yang mampu menjelaskan adanya fenomena seperti itu, hingga saat ini masih dalam perumusan para fisikawan dunia. Dan akan selalu menjadi bahan kajian yang menarik karena ia merupakan aspek penting dalam pemahaman kita terhadap alam semesta, kelahiran serta proses evolusinya secara keseluruhan dalam suatu pemahaman utuh yang menunjukkan kebesaran Allah Yang Maha Rahman dalam menciptakan jagat raya ini. (sumber:fisikanet.lipi.go.id)

Senin, 17 September 2012

RUANG HAMPA DALAM PERSPEKTIF AL-QUR'AN (bag 2 Terakhir)


Kita lanjutkan pembahasan RUANG HAMPA DI ANGKASA

Demikaian juga ketika mereka menagkap materi hitam di angkasa luar, mereka meyakininya sebagai lubang atau celah kosong atau retakan yang menganga. Tetapi dengan cepat mereka kemudian menemukan bahwa (yang disangka) ruang kosong tersebut ternyata dipenuhi materi-materi yang tidak bercahaya, bahkan mereka menemukan bahwa materi gelap ini yang mengontrol penyebaran galaksi-galaksi di jagad raya. Materi gelap ini memenuhi lebih dari 95% jagad raya.

Para pakar juga telah melihat sesuatu yang mnyerupai ruang kosong di langit, tetapi mereka akhirnya menemukan bahwa ruang kosong tersebut ternyata adalah materi gelapyang tidak terlihat, dan bahwa tidak adad di angkasa luar sana ruang kosong. Justru daerah gelap tersebut lebih rapat diisi oleh berbagai materi daripada daerah lain. Hal ini sangat menarik minat para ilmuwan saay ini, merekapun melakukan berbagai penelitian terhadap area ini. Mereka terkadang menyebutkan sebagai lubang, tetapi nama ini sepertinya kurang tepat secara ilmiah karena kata lubang atau ruang identik dengan kosong, padahal tidak ada tempat yang kosong di jagat raya sebagaimana yang juga diakui oleh para pakar saat ini. Para ilmuwan menemukan bahwa alam semesta terdiri dari materi dan energi, ada materi biasa yang terlihat dan ada pula materi yang tidak terlihat. Dan ada energi normal yang dapat diukur dan diidentifikasi, sebaliknya ada energi ‘gelap’ yang tidak terdeteksi. Maka ingatlah pada Firman Allah tentang ciptaan yang berpasangan,  

“Maha suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui.” (QS. Yaasiin: 36)

Yang menarik dari ayat tersebut menyebutkan tiga kategori ciptaan yang berpasangan: dunia tumbuhan, dunia makhluk hidup termasuk manusia, dan terakhir dunia anonim yang tidak kita ketahui. Keberadaan materi dan energi tidak dikenal ini ternyata telah tersingkap ketika Al Qur’an diturunkan. Maha Suci Allah. Beginilah gambaran alam semesta menurut perkiraan para ilmuwan saat ini: 74% merupakan energi teridentifikasi, 22% materi tidak dikenal, 4% materi biasa. Artinya semua materi yang mungkin dapat terlihat lebih dari 4% alam semesta ini. Maka seberapa banyakkah pengetahuan kita tentang alam semesta ini?? Seberapa hebatnyakah kita?!?? Kesimpulannya adalah bahwa alam semesta ini penuh berisi materi dan energi, tidak ada ruang kosong atau lubang atau celah-celah kosong. Alam semesta ini adalah bangunan kokoh yang seharusnya kita amati dan pelajari sehingga menambah keyakinan kita terhadap kebenaran Al-Qur’an yang telah menceritakan kepada kita keberadaan bangunan semesta yang mapan ini 14 abad yang lalu melalui ayatnya dalam QS. Qaaf: 6. Sumber: Majalah Qiblati Edisi 11 Th VII 1433H

Sabtu, 15 September 2012

RUANG HAMPA DALAM PERSPEKTIF AL-QUR'AN (bag 1)

MISTERI RUANG HAMPA DI ANGKASA

Ada pemahaman keliru yang diyakini oleh sebagian orang bahwa di langit terdapat celah kosong atau ruang hampa. Bagaimanakah yang sebenarnya?? Dan bagaimana pula berita Al Qur’an tentang hal tersebut?? Karena Allah berfirman:  “Maka tidakkah mereka memperhatikan langit yang ada di atas mereka, bagaimana Kami membangunnya dan menghiasinya dan langit itu tidak mempunyai celah-celah sedikitpun ?” (QS. Qaaf:6) 



Ayat tersebut di atas menguatkan bahwa tiga fakta ilmiah sebagai berikut:
  1. Firman Allah banainaahaa menegaskan bahwa langit merupakan sebuah bangunan dan inilah yang dikuatkan oleh ilmuwan saat ini melalui bukti penelitian-penelitian mereka. Mereka menemukan arsitektur jagad raya yang menawan di balik struktur dan teknik yang menyangga alam semesta. Terdapat pilar-pilar dan benang-benang serta galaksi. Gugusan bintang-bintang membentuk galaksi, kumpulan galaksi membentuk jagad raya. Jika kita memperhatikan alam semesta kita melihat dunia yang penuh yang penuh dengan gerakan dan aktifitas. Jagad raya penuh dengan galaksi dan debu kosmis,asap, bintang-bintang, cahaya cosmis dan lain-lain yang membangun sebuah bentuk yang kokoh dan mapan. Oleh karena itu Allah berfirman tentang langit dalam QS. Qaaf:6 
  2. Firman Allah wazaiyannaaha (dan Kami menghiasinya), berbicara tentang dekorasi langit dengan bintang-bintang dan galaksi. Para ilmuwan belakangan juga menemukan fakta yang meyakinkan tentang keberadaan kelompok galaksi dengan warna-warna cerah yang menghiasi langit, berjejer mengikuti alur seperti permata-permata yang diuntai dengan benang membentuk kalung yang indah. Ketika ilmuwan melihat kedalaman alam semesta mereka melihat pemandangan yang sangat indah dan menakjubkan. Mereka menemukan bahwa bintang-bintang berwarna dalam warna-warna cerah merah, hijau, kuning, biru. Oleh karena itu merekapun mengatakan tentang alam semesta bahwa dia dihiasi dengan bintang-bintang. Tetapi ungkapan mereka ini jauh hari telah didahului oleh Al Qur’an yang mengataka: ” Maka tidakkah mereka memperhatikan langit yang ada di atas mereka, bagaimana Kami membangunnya dan menghiasinya?”
  3. Ayat wa maa lahaa min furuuj (dan tidak ada furuuj sedikitpun). Sementara sebagian ilmuwan tersebut memahamiada furuuj di langit, furuuj itu sendiri adalah retakan yang menganga atau ruang kosong atau celah kososng. Ini (bahwa terdapat ruang atau celah menganga yang kosong di langit) merupakan pemahaman yang keliru yang akan dijelaskan berikut ini serta dikuatkan dengan argumentasi ilmiah. 
Teori yang dikemukanan oleh pakar sering memiliki kekeliruan yang baru terbukti keliru sekian lama kemudian, akan tetapi istilah yang telah biasa dipakai tetap bertahan, tidak berubah. Ketika para ilmuwan dalam penelitian mereka menemukan benda-benda berat yang masing-masing memiliki masa ribuan kali massa matahari kita mengapung di angakasa, mereka tidak serta merta dapat mengindentifikasi atau mengenal materi tersebut dengan benar. Mereka hanya melihat kegelapan di antara kumpulan bintang-bintang, lalu mereka menyebutnya sebagai lubang hitam, sebuah penamaan yang tidak tepat secara ilmiah. Al qur’an sendiri menyebutnya al-khunnas yaitu materi yang tersembunyi, tidak kita ketahui. Secara ilmiah nama ini lebih tepat.   (bersambung.........................)

Rabu, 05 September 2012

SUBHANALLAAH.., GUNTUR DAN KILAT BERTASBIH MEMUJI ALLOH

Pernahkah kita berpikir bagaimana guntur –- sebagai salah satu peristiwa atmosfer terhebat yang Allah ciptakan -- itu terbentuk? Dan bagaimana pula guntur mampu melepaskan sejumlah energi yang demikian besar? Menurut Harun Yahya, selama hujan, guntur dan kilat yang tersusun dari pembentukan cahaya-cahaya terang akibat pelepasan energi listrik di ruang atmosfir, sesungguhnya merupakan sumber energi yang menghasilkan listrik lebih besar dari pada ribuan pembangkit listrik–di samping sebagai fenomena iklim. Inilah kehebatan dan keajaiban kilat dan petir:
  1. Energi yang dilepas oleh sekali kilatan petir lebih besar dari pada energi yang dihasilkan seluruh pembangkit listrik di Amerika. 
  2. Satu kilatan petir dapat menyalakan 100 watt bola lampu selama lebih dari tiga bulan. 
  3. Pada titik sentuh petir ke bumi, cuaca memanas hingga 25.000 derajat Celcius. Kecepatan kilatan petir 150.000 km/detik dan rata-rata ketebalannya 2,5-5 cm. 
  4. Petir menghasilkan molekul nitrogen yang dibutuhkan bagi tumbuh-tumbuhan di Bumi utuk menunjang kehidupanya. 
  5. Setiap petir rata-rata memiliki 20.000 amper daya listrik. Seorang tukang las hanya menggunakan 250-400 amper untuk mengelas baja. 
  6. Petir bergerak pada kecepatan 150.000 km/detik, hampir setengah kecepatan cahaya dan 100.000 kali lebih cepat dari kecepatan suara. ''Suara yang dilepaskan oleh satu kilatan lebih besar dari pada cahaya 10 juta bola lampu berdaya 100 watt. Jadi, apabila setiap rumah di Istanbul, Turki menyalakan satu bola lampu, pancaran cahaya dari satu kilatan petir akan lebih besar,'' ungkap Harun Yahya. 
Allah menyatakan fenomena kilat yang menakjubkan ini sebagai berikut “…Kilauan kilatnya hampir membutakan pandangan.” (al-Nur: 43).
Bagaimanakah kilat terbentuk? 
Menurut Harun Yahya, udara–yang dipanaskan oleh cahaya matahari–naik membawa molekul-molekul air yang menguap di dalamnya. Ketika udara yang naik ini mencapai ketinggian 2-3 km, udara tesebut bersentuhan dengan lapisan udara dingin. Saat kenaikan udara, kristal-kristal es yang terbentuk di dalam awan melepaskan energi listrik statis yang terbentuk karena pergesekan. Energi listrik ini mengandung unsur positif (+) pada lapisan atas awan dan unsur negatif (-) pada lapisan bawahnya. Ketika awan cukup terisi untuk mengionisasi udara; maka petir terbentuk. Mengapa bisa bergemuruh? Menurut Harun Yahya, petir memanaskan udara di sekitarnya hingga 30.000 derajat celcius dalam sepersejuta detik. Udara yang dipanskan meluas, dan menyebarkan gelombang suara yang lebih cepat dari kecepatan suara; dengan tekanan 100 kali lebih besar dari tekanan atmosfir normal. Sama halnya dengan pesawat yang melintas dengan kecepatan suara, ini menyebabkan ledakan suara (gemuruh) di udara, sehingga dinamakan gemuruh/guntur. 
Mengapa cahaya dan suara guntur tidak bersamaan mencapai bumi?
Harun Yahya mengungkapkan, hal ini dikarenakan suara guntur mencapai pendengaran kita dengan kecepatan suara (340 m/detik di udara); sedangkan petir mencapai visual (penglihatan ) kita dengan kecepatan cahaya (99, 793 km/detik). Ini menyebabkan perbedaan waktu antara dua peristiwa, dan dengan demikian membuat kilatan (petir) mencapai bumi lebih sebelum guntur. Apa perbedaan antara kilat dan petir? Ketika perbedaan muatan listrik menjadi lebih besar antara bumi dan awan, udara menjadi lebih mudah ditembus dari bumi ke awan; pelepasan energi listrik dimulai melalui saluran penghantar yang dibentuk oleh udara yang ditembus itu. Pelepasan energi listrik dari awan disebut dengan kilat, dan pelepasan energi listrik dari bumi disebut petir atau sambaran balik.
Kebenaran kilat yang dinyatakan dalam Alquran Guruh atau Guntur ternyata terpilih menjadi nama salah satu surah dalam Alquran, yakni surah al-Ra’d. Allah memberitahukan bahwa guntur dibentuk oleh kilat yang bertasbih memuji-Nya: “Dan guruh bertasbih memuji-Nya (demikian pula) para malaikat karena takut kepada-Nya…” (al-Ra’d: 13).Sumber: Harun Yahya

Kamis, 02 Agustus 2012

MUKJIZAT ALLAH YANG MENCENGANGKAN ILMUWAN BARAT

Pada sebuah penelitian ilmiah yang diberitakan oleh sebuah majalah sains terkenal, Journal of Plant Molecular Biologies, menyebutkan bahwa sekelompok ilmuwan yang mengadakan penelitian mendapatkan suara halus yang keluar dari sebagian tumbuhan yang tidak bisa didengar oleh telinga biasa. Suara tersebut berhasil disimpan dan direkam dengan sebuah alat perekam tercanggih yang pernah ada. Para ilmuwan selama hampir 3 tahun meneliti fenomena yang mencengangkan ini berhasil menganalisis denyutan atau detak suara tersebut sehingga menjadi isyarat-isyarat yang bersifat cahaya elektrik (kahrudhoiyah ) dengan sebuah alat canggih yang bernama Oscilloscope. 

Akhirnya para ilmuwan tersebut bisa menyaksikan denyutan cahaya elektrik itu berulang lebih dari 1000 kali dalam satu detik!!!Prof. William Brown yang memimpin para pakar sains untuk mengkaji fenomena tersebut mengisyaratkan setelah dicapainya hasil bahwasanya tidak ada penafsiran ilmiah atas fenomena tersebut. Padahal seperti diakui oleh sang profesor bahwa pihaknya telah menyerahkan hasil penelitian mereka kepada universitas-universitas serta pusat-pusat kajian di Amerika juga Eropa, akan tetapi semuanya tidak sanggup menafsirkan fenomena bahkan semuanya tercengng tidak tahu harus berkomentar apa. Pada kesempatan terakhir, fenomena tersebut dihadapkan dan dikaji oleh para pakar dari Britania, dan di antara mereka ada seorang ilmuwan muslim yang berasal dari India. Setelah 5 hari mengadakan kajian dan penelitian ternyata para ilmuwan dari Inggris tersebut angkat tangan. Sang ilmuwan muslim tersebut mengatakan: “Kami umat Islam tahu tafsir dan makna dari fenomena ini, bahkan semenjak 1.400 tahun yang lalu!” Maka para ilmuwan yang hadir pun tersentak dengan pernyataan tersebut, dan meminta dengan sangat untuk menunjukkan tafsir dan makna dari kejadian itu. Sang ilmuwan muslim segera menyitir firman Allah Subhanahu wa Ta’ala : 
( وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَكِنْ لا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا (٤٤) 
 “…Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Isra`: 44)

 Tidaklah suara denyutan halus tersebut melainkan lafazh jalalah (nama Allah) sebagaimana tampak dalam layar. Maka keheningan dan keheranan yang luar biasa menghiasi aula di mana ilmuwan muslim tersebut berbicara. Subhanallah, Maha suci Allah! Ini adalah salah satu mukjizat dari sekian banyak mukjizat agama yang haq ini! Segala sesuatu bertasbih mengagungkan nama Allah. 

Akhirnya orang yang bertanggung jawab terhadap penelitian ini, yaitu profesor William Brown menemui sang ilmuwan muslim untuk mendiskusikan tentang agama yang di bawa oleh seorang Nabi yang ummi (tidak bisa baca tulis) sebelum 1.400 tahun lalu tentang fenomena ini. Maka ilmuwan tersebut pun menerangkan kepadanya tentang Islam, setelah itu ia memberikan hadiah al-Qur`an dan terjemahnya kepada sang profesor. Selang beberapa hari setelah itu, profesor William mengadakan ceramah di Universitas Carnich – Miloun, ia mengatakan: “Dalam hidupku, aku belum pernah menemukan fenomena semacam ini selama 30 tahun menekuni pekerjaan ini, dan tidak ada seorang ilmuwan pun dari mereka yang melakukan pengkajian yang sanggup menafsirkan apa makna dari fenomena ini. Begitu pula tidak pernah ditemukan kejadian alam yang bisa menafsirinya. Akan tetapi satu-satunya tafsir yang bisa kita temukan adalah dalam al-Qur`an. Hal ini tidak memberikan pilihan lain buatku selain mengucapkan syahadatain: “Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang haq melainkan Allah, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusannya!” Seorang profesor ini telah mengumumkan Islamnya di hadapan para hadirin yang sedang terperangah. Allahu akbar! Kemuliaan hanyalah bagi Islam, ketika seorang ilmuwan sadar dari kelalaiannya, dan mengetahui bahwa agama yang haq ini adalah Islam! (Sumber : Majalah Qiblati Edisi 11 Tahun I)

Senin, 26 Maret 2012

FISIKA DALAM PERSPEKTIF AL-QUR'AN (bag 2)

Pembahasan yang lalu sudah sampai pada unsur pertama yaitu OBSERVASI dan unsur kedua yaitu PENGUKURAN dalam mempelajari ilmu fisika. Kita lanjutkan unsur berikutnya: KETIGA: Analisis terhadap data yang terkumpul dari berbagai pengukuran atau besaran-besaran fisis yang terlibat. Hal ini dilakukan melalui proses pemikiran kritis dan dilanjutkan dengan evaluasi terhadap hasil-hasilnya dengan penalaran yang sehat sehingga mencapai kesimpulan yang rasional. KEEMPAT: Peranan pemikiran kritis dan penalaran rasional. Dalam hal ini Allah berfirman dalam Q.S. An-Nahl: 11-12:
"Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman; zaitun, korma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan". 
" Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami (nya)".

Alam Semesta dan proses-proses alami yang ada didalamnya, sifat dan kelakuan alam yang telah disimpilkan oleh para ilmuwan fisika disebut sebagai hukum alam. Sedangkan para ilmuwan muslim menyebutnya sebagai sunnatullah.
Dari penjelasan keempat unsur penting dari ilmu fisika menunjukkan bahwa semua sejalan dengan apa yang ada dalam Al Qur'an

Minggu, 25 Maret 2012

FISIKA DALAM PERSPEKTIF AL-QUR'AN (bag 1)

Kalau kita mempelajari ilmu fisika maka ada empat unsur penting yang menjadi landasan didalamnya. PERTAMA: Observasi atau pengamatan terhadap bagian alam yang ingin kita ketahui sifat dan kelakuannya pada kondisi tertentu. Dalam kegiatan fisika, apabila pengamatan atau observasi terhadap kelakuan diganti dengan pengkhayalan merupakan suatu kesalahan kecuali apabila khayalan tersebut didukung oleh perhitungan matematik yang dijabarkan dari kelakua-kelakuan yang telah diketahui. Sehubungan dengan keharusan manusian untuk mengenal alam sekelilingnya dengan baik, maka Allah Ta'ala memerintahkan dalam Al Qur'an Surat Yunus: 101 sebagai berikut:

 
"Katakanlah:` Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi. Tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman`. 

Perintah itu menunjukan agar manusia mengetahui sifat-sifat dan kelakuan alam di sekitarnya, yang akan menjadi tempat tinggal dan sumber bahan makanan dalam hidupnya. dengan mengetahui sifat dan kelakuan alam tersebut manuasia dapat mengambil untuk kemaslahatan bagi semua yang ada di alam.
Dalam Surat Al Ghaasiyah: 17-20 juga dijelaskan: 
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan, Dan langit, bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan? Dan bumi bagaimana ia dihamparkan?”. 

Dari ayat ini dapat dikatakan bahwa menjadi keharusan bagi manusia untuk memperhatikan sifat dan tingkah laku alam semesta.Memeperhatkan disini dapat berarti sebagai uasaha untuk memahami proses proses alamiah yang terjadi didalamnya. Hal ini persis sama dengan apa yang dilakukan oleh ilmuwan Fisika atau pengembangan sains pada umumnya, melakukan observasi dengan penuh perhatian untuk menjawab pertanyaang bgaiamana proses itu dapat terjadi. memeperhatikan alam semesta dan merenunginya sampai mendapatkan sesuatu pemahaman tentang sifat dan kelakuan serta proses alami yang terjadi di dalamnya merupakan suatu aktivitas dalam membaca ayat Allah, sebab di dalam Al Qur'an sudah dijelaskan bahwa memperhatikan alam semesta berarti juga mempelajari ilmu fisika adalah bagian dari membaca ayat Allah. 

KEDUA: Pengukuran.Dalam dunia fisika tidakpernah lepas dari hal ukur mengukur. Segala fenomena kealaman selalu dijelaskan dengan cara kuantitatif. Kegiatan ini dilakuakn agar suatu segala kealaman yang mempunyai pengertian universal bisa dimengerti juga oleh orang lain. Sesuatu akan menjadi kabur dalamfisika jika hanya dinyatakan secara kualitatif saja. Seseorang fisikawan yang mendengar ucapan seperti angin bertiup semilir-semilir sehingga membuat mata mengantuk akan berkomentar, bahwa ungkapan tersebut bukanlah pernyataan fisis tapau puitis. Tetapi Udara mengalir dengan kelajuan 9 km/jam dengan suhu 23 derajat celcius dan kelembaban 85 persenakan dikatakan sebagai pernyataan fisika. Jadi dalam fisika harus ada pernyataan yang dapat dipahami oleh semua orang(harus terukur. Pemahaman ini sejalan dengan firman Allah dalam QS. Al Qamar ayat 49:
"Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran".Seandainya Allah menciptakan segala sesuatu tanpa ukuran, maka akan terjadi ketidakseimbangan di dalamnya. Ukuran yang diciptakan oleh Allah sangat tepat, sehingga alam sebagaimana kita rasakan benar-benar seimbang. Dalam Fisika, ilmuwan fisika apabila ingin berkarya membuat suatu terapan fisika, maka juga akan melakukan pengukuran sampai mendapatkan hasil yang diharapkan. Apabila ingin membuat suhu ruangan 22 derajat Celcius maka akan membuat rekayasa dalam lingkungan sekitarnya sehingga sesuai dengan yang diharapkan. Besaran-besaran yang dapat diukur disebut besaran fisika atau besaran fisis. Contoh tentang suhu di atas mengandung pengertian bahwa kelembaban memiliki ukuran tertentu. Gerak udara yang diciptakan Allah memiliki ukuran kelajuan. Bumi dan benda angkasa yang lain juga memiliki ukuran, serta mempunyai massa tertentu sehingga dapat menjadiseimbang. Kemudian dari pengukuran dibuat menjadi persamaan matematis sehingga lebih mudah dipahami oleh semua orang. Jadi apa yang ada dalam fisika ada kesesuaian dengan Al Qur'an.  Bersambung......

Sabtu, 14 Januari 2012

USIA DUNIA DALAM AL QUR'AN

Ada yang mencoba, menghitung Umur Semesta? Namun, bukan melalui penelitian selama bertahun-tahun. Akan tetapi, hanya cukup dengan beberapa ayat di dalam Al Qur’an. Hasilnya ! Umur Semesta diperoleh angka 18,26 milyar tahun…

Begini Perhitungannya :

1. Berdasarkan informasi Al Qur’an, keberadaan alam dunia tidak lebih dari 1 hari. Ini termuat dalam QS. Thaha ayat 104.

“Kami lebih mengetahui apa yang akan mereka katakan, ketika orang yang paling lurus jalannya mengatakan, ‘Kami tinggal (di dunia) tidak lebih dari sehari saja.’.”

2. Sehari langit sama artinya dengan 1.000 tahun perhitungan manusia. Dijelaskan dalam QS. Al Hajj ayat 47.

“Dan mereka meminta kepadamu (Muhammad) agar adzab itu disegerakan, padahal Allah tidak akan menyalahi janji-Nya. Dan sesungguhnya di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu.”

3. Sehari kadarnya 50.000 tahun yang termuat dalam QS. Ma’arij ayat 4.

“Para malaikat dan Jibril naik, (menghadap) kepada Tuhan, dalam sehari setara dengan lima puluh ribu tahun.”

Bila 1 tahun manusia adalah 365,2422 hari, maka sehari langit diperoleh:

365,2422 x 50.000 x 1.000 x 1 diperoleh 18,26 milyar tahun.

Sebuah perhitungan matematika yang sangat canggih!

Ternyata paparan itu dibuktikan oleh pendapat Moh. Asadi dalam bukunya The Grand Unifying Theory of Everything. Dia menyatakan kalau umur alam semesta itu 17—20 milyar tahun. Sementara, Profesor Jean Claude Batelere bilang kalau umur semesta itu kisarannya ada di 18 milyar tahun. Terus ditambah dengan teori NASA yang mengeluarkan data umur semesta itu ada di kisaran 12—18 milyar tahun.

Para ilmuwan dengan segala peralatan canggihnya dan ilmu ’tingginya’ berusaha menguak berapa umur semesta, ternyata sebenarnya di dalam Al Qur’an sudah tertera dengan begitu jelasnya tentang misteri itu. 
Apakah anda percaya… dengan semua perhitungan di atas ?

Kamis, 08 Desember 2011

INIKAH KEDALAMAN NERAKA??

Dari Abu Hurairah رضي الله عنه pula, katanya: "Kita semua bersama Rasulullah صلی الله عليه وسلم, tiba- tiba terdengarlah suara benda yang jatuh keras, lalu beliau bersabda: "Adakah engkau semua mengetahui suara apakah ini?" Kita semua berkata: "Allah dan RasulNya yang lebih mengetahui." Beliau صلی الله عليه وسلم lalu bersabda: "Ini adalah batu yang di Iemparkan ke dalam neraka sejak tujuh puluh tahun yang lalu dan kini sudah sampai di dasar neraka itu. Maka dari itu engkau semua dapat mendengarkan suara jatuhnya." (Riwayat Muslim)


Seberapa dalam neraka itu? Mari kita hitung seberapa kedalaman neraka itu berdasarkan perhitungan fisika. Berdasarkan dari hadits di atas, bahwa sebuah benda baru sampai di tanah setelah menempuh jarak 70 tahun. Anggap benda jatuh bebas, sehingga berdasakan konsep fisika bahwa benda yang jatuh bebas maka akan memenuhi persamaan :
  • Ketinggiannya : h=1/2 gt^2
  • Kecepatan jatuhnya : v=√2gh
Mari kita hitung bersama!

  1. Untuk menghitung ketinggiannya (kedalaman) maka kita gunakan persamaan: h=1/2 gt^2
Jika g = 10 m/s^2 dan t = 70 tahun = 70 x 365 x 24 x 3600 = 2,060352.10^10 s, maka:
h=1/2.10.(2,060352.〖10〗^10 )^2
h =2,122525181952 .10^21 m, anggap kita bulatkan menjadi : h = 2. 10^21 m atau 2. 10^18 km (bacane ndean….: 200 trilyun trilyun km)
Subhanallah………!!!!

    2.  Untuk menghitung kecepatan jatuhnya kita gunakan persamaan : v=√2gh
v=√(2.10.2.〖10〗^21 )
v = 2. 10^11 m/s
Subhanallah…..begitu cepatnya.

Perhitungan di atas hanyalah berdasakan konsep fisika. Seberapa kedalaman neraka sesungguhnya hanya Allah Yang Maha Tahu.

Wallahu’Alam.

Kamis, 01 Desember 2011

AIR HUJAN YANG MELAJU DENGAN AMAN

Di dalam ayat kesebelas Surat Az-Zukhruf, hujan dinyatakan sebagai air yang diturunkan dalam “ukuran tertentu”. Sebagaimana ayat di bawah ini:

الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ مَهْدًا وَجَعَلَ لَكُمْ فِيهَا سُبُلًا لَّعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

“Dan yang menurunkan air dari langit menurut kadar (yang diperlukan) lalu kami hidupkan dengan air itu negeri yang mati, seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari dalam kubur).” (QS. Az-Zukhruf : 11)

“Kadar” yang disebutkan dalam ayat ini merupakan salah satu karakteristik hujan. Secara umum, jumlah hujan yang turun ke bumi selalu sama. Diperkirakan sebanyak 16 ton air di bumi menguap setiap detiknya. Jumlah ini sama dengan jumlah air yang turun ke bumi setiap detiknya. Hal ini menunjukkan bahwa hujan secara terus-menerus bersirkulasi dalam sebuah siklus seimbang menurut “ukuran” tertentu.

Pengukuran lain yang berkaitan dengan hujan adalah mengenai kecepatan turunya hujan. Ketinggian minimum awan adalah sekitar 12.000 meter. Dengan perhitungan fisika, menggunakan persamaan yang kedua dari gerak jatuh bebas (GJB) seketika turun dari ketinggian ini, sebuah benda yang memiliki massa dan ukuran sebesar tetesan hujan akan terus melaju dan jatuh menimpa tanah dengan kecepatan : v = akar 2. 9,8. 12000 = 484,97 m/s atau 1756,79 km/jam. Tentunya, objek apapun yang jatuh dengan kecepatan tersebut akan mengakibatkan kerusakan. Dan apabila hujan turun dengan cara demikian, maka seluruh lahan tanaman akan hancur, pemukiman, perumahan, kendaraan akan mengalami kerusakan, dan orang-orang pun tidak dapat pergi keluar tanpa mengenakan alat perlindungan ekstra. Terlebih lagi, perhitungan ini dibuat untuk ketinggian 12.000 meter, faktanya terdapat awan yang memiliki ketinggian hanya sekitar 10.000 meter. Sebuah tetesan hujan yang jatuh pada ketinggian ini tentu saja akan jatuh pada kecepatan yang mampu merusak apa saja.

Namun tidak demikian terjadinya, dari ketinggian berapapun hujan itu turun, kecepatan rata-ratanya hanya sekitar 8-10 km/jam ketika mencapai tanah. Hal ini disebabkan karena bentuk tetesan hujan yang sangat istimewa. Keistimewaan bentuk tetesan hujan ini meningkatkan efek gesekan atmosfer dan mempertahankan kelajuan tetesan-tetesan hujan krtika mencapai “batas” kecepatan tertentu. (Saat ini, parasut dirancang dengan menggunakan teknik ini).

Tak sebatas itu saja “pengukuran” tentang hujan. Contoh lain misalnya, pada lapisan atmosferis tempat terjadinya hujan, temperatur bisa saja turun hingga 400oC di bawah nol. Meskipun demikian, tetesan-tetesan hujan tidak berubah menjadi partikel es. (Hal ini tentunya merupakan ancaman mematikan bagi semua makhluk hidup di muka bumi.) Alasan tidak membekunya tetesan-tetesan hujan tersebut adalah karena air yang terkandung dalam atmosfer merupakan air murni. Sebagaimana kita ketahui, bahwa air murni hampir tidak membeku pada temperatur yang sangat rendah sekalipun.

Tentu saja, air hujan tak serta merta memiliki kemampuan seperti ini. Hanya AllahYang Maha Kuasa, yang mampu mengatur alam semestasecanggih ini.

"Dan kepunyaan-Nya lah segala apa yang ada di langit dan bumi dan untuk-Nya lah ketaatan itu selama-lamanya. Maka mengapa kamu bertakwa kepada selain Allah?" (QS. An Nahl:52)

sumber: diolah dari berbagai sumber

Rabu, 22 September 2010

Kegelapan dan Gelombang di Dasar Lautan

Allah berfirman :

أَوْ كَظُلُمَاتٍ فِي بَحْرٍ لُجِّيٍّ يَغْشَاهُ مَوْجٌ مِنْ فَوْقِهِ مَوْجٌ مِنْ فَوْقِهِ سَحَابٌ ظُلُمَاتٌ بَعْضُهَا فَوْقَ بَعْضٍ إِذَا أَخْرَجَ يَدَهُ لَمْ يَكَدْ يَرَاهَا وَمَنْ لَمْ يَجْعَلِ اللَّهُ لَهُ نُورًا فَمَا لَهُ مِنْ نُورٍ

Artinya : "Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang tindih-bertindih, apabila dia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya, (dan) barangsiapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitpun." (Al Qur'an, 24:40)

Keadaan umum tentang lautan yang dalam dijelaskan dalam buku berjudul Oceans:

Kegelapan dalam lautan dan samudra yang dalam dijumpai pada kedalaman 200 meter atau lebih. Pada kedalaman ini, hampir tidak dijumpai cahaya. Di bawah kedalaman 1000 meter, tidak terdapat cahaya sama sekali. (Elder, Danny; and John Pernetta, 1991, Oceans, London, Mitchell Beazley Publishers, s. 27)

Kegelapan dan Gelombang di Dasar LautanKini, kita telah mengetahui tentang keadaan umum lautan tersebut, ciri-ciri makhluk hidup yang ada di dalamnya, kadar garamnya, serta jumlah air, luas permukaan dan kedalamannya. Kapal selam dan perangkat khusus yang dikembangkan menggunakan teknologi modern, memungkinkan para ilmuwan untuk mendapatkan informasi ini.

Manusia tak mampu menyelam pada kedalaman di bawah 40 meter tanpa bantuan peralatan khusus. Mereka tak mampu bertahan hidup di bagian samudra yang dalam nan gelap, seperti pada kedalaman 200 meter. Karena alasan inilah, para ilmuwan hanya baru-baru ini saja mampu menemukan informasi sangat rinci tersebut tentang kelautan. Namun, pernyataan "gelap gulita di lautan yang dalam" digunakan dalam surat An Nuur 1400 tahun lalu. Ini sudah pasti salah satu keajaiban Al Qur’an, sebab infomasi ini dinyatakan di saat belum ada perangkat yang memungkinkan manusia untuk menyelam di kedalaman samudra.

Selain itu, pernyataan di ayat ke-40 surat An Nuur "Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan…" mengarahkan perhatian kita pada satu keajaiban Al Qur’an yang lain.

Kegelapan dan Gelombang di Dasar LautanPara ilmuwan baru-baru ini menemukan keberadaan gelombang di dasar lautan, yang "terjadi pada pertemuan antara lapisan-lapisan air laut yang memiliki kerapatan atau massa jenis yang berbeda." Gelombang yang dinamakan gelombang internal ini meliputi wilayah perairan di kedalaman lautan dan samudra dikarenakan pada kedalaman ini air laut memiliki massa jenis lebih tinggi dibanding lapisan air di atasnya. Gelombang internal memiliki sifat seperti gelombang permukaan. Gelombang ini dapat pecah, persis sebagaimana gelombang permukaan. Gelombang internal tidak dapat dilihat oleh mata manusia, tapi keberadaannya dapat dikenali dengan mempelajari suhu atau perubahan kadar garam di tempat-tempat tertentu. (Gross, M. Grant; 1993, Oceanography, a View of Earth, 6. edition, Englewood Cliffs, Prentice-Hall Inc., s. 205)

Pernyataan-pernyataan dalam Al Qur'an benar-benar bersesuaian dengan penjelasan di atas. Tanpa adanya penelitian, seseorang hanya mampu melihat gelombang di permukaan laut. Mustahil seseorang mampu mengamati keberadaan gelombang internal di dasar laut. Akan tetapi, dalam surat An Nuur, Allah mengarahkan perhatian kita pada jenis gelombang yang terdapat di kedalaman samudra. Sungguh, fakta yang baru saja diketemukan para ilmuwan ini memperlihatkan sekali lagi bahwa Al Qur'an adalah kalam Allah.

ILMU PERBINTANGAN dan RAMALAN CUACA

Oleh DR. Ahmad Zain An-Najah, M.A


عن ابن عباس ، أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : من اقتبس علما من النجوم،اقتبس شعبة من السحر زاد على ما زاد ( رواد أبو داود وابن ماجه وأحمد
)

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwasanya Rosulullah saw bersabda; “Barang siapa yang mengutip satu ilmu dari ilmu perbintangan, berarti dia telah mengutip satu cabang dari ilmu sihir.” ( HR Abu Daud, Ibnu Majah dan Ahmad )
Hadits di atas, walaupun secara tidak langsung, telah memperingatkan kepada umat Islam agar tidak coba- coba mempelajari ilmu perbintangan. Karena ilmu tersebut merupakan salah satu cabang dari ilmu sihir, sedang ilmu sihir sendiri telah diharamkan dalam Islam, dan ini merupakan pendapat mayoritas ulama. Demikianlah pesan hadits di atas secara global. Namun alangkah baiknya, kalau permasalahan tersebut kita kembangkan lebih luas lagi, mengingat banyak berhubungan dengan berbagai masalah yang terjadi di sekitar kita.

PENGERTIAN ILMU PERBINTANGAN

Sebelumnya, marilah kita simak dahulu apa yang dikatakan Syekh Islam Ibnu Taimiyah tentang pengertian Ilmu perbintangan. Beliau mengatakan bahwa : “ Ilmu Perbintangan adalah ilmu yang mempelajari fenomena yang terjadi di langit dan menjadikannya sebagai standar ( petunjuk ) atas terjadinya sesuatu di bumi.” Pengertian tersebut mengisyaratkan bahwa dalam ilmu perbintangan, seseorang dituntut untuk selalu mengaitkan peristiwa yang terjadi di bumi ini dengan peristiwa yang terjadi di langit. Sebagai contoh, suatu hari di langit sedang terjadi gerhana matahari, maka seorang ahli ilmu perbintangan akan mengaitkan gerhana matahari tersebut dengan adanya peristiwa besar yang sedang , atau akan terjadi di muka bumi ini. Seperti seorang pemimpin yang meninggal dunia. Contoh lain, ketika ada sebuah meteor di langit yang sedang bergeser dan jatuh ke bumi, atau ke tempat lainnya, maka seorang ahli ilmu perbintangan akan mengatakan bahwa telah lahir seorang anak yang cerdas dan hebat. Contoh ketiga, anak yang lahir pada malam bulan purnama, menunjukkan bahwa anak tersebut akan menjadi orang kaya dikemudian hari. Contoh keempat, banyak orang Islam yang berkeyakinan bahwa malam Jum’at Kliwon adalah malam yang seram dan keramat.( Malam dan siang adalah perubahan alam akibat peristiwa yang terjadi di langit, karena akibat terjadinya bergeseran antara bumi dan matahari).
Contoh- contoh di atas hanyalah sebagian kecil dari amalan-amalan yang telah dipraktekkan sekolompok manusia. Bahkan amalan- amalan tersebut telah berubah menjadi sebuah keyakinan yang dianut oleh sebagian masyarakat hingga hari ini dan tidak boleh diganggu gugat. Keyakinan- keyakinan semacam itu, kalau ditelusuri ternyata telah terjadi berabad-abad lamanya. Hal ini bisa dilihat dengan jelas ketika terjadi gerhana matahari pada zaman Nabi Muhammad saw , kebetulan bersamaan dengan itu , putra tercinta Rosulullah saw, Ibrohim, di panggil oleh Allah swt ( meninggal dunia ). Kemudian Allah memerintahkan Rosulullah saw agar mengumpulkan kaum muslimin di masjid untuk melaksanakan sholat kusuf ( sholat gerhana matahari ). Setelah selesai sholat Rosulullah bersabda :

إن الشمس والقمر آيتان من آيات الله لا ينكسفان لموت أحد ولا لحياته

“ Bahwa matahari dan bulan itu adalah dua tanda dari tanda- tanda kebesaran Allah dan gerhana matahari ini tidak ada kaitannya dengan kematian atau kehidupan seseorang. “ ( HR Bukhori Muslim ).

Hadits tersebut mengisyaratkan bahwa Rosululah saw yang hidup pada empat belas abad yang silam telah mengetahui bahwa masyarakat pada waktu masih menyakini terjadinya gerhana matahari merupakan tanda adanya seseorang yang lahir atau meninggal.. Hal ini dikuatkan dengan hadits yang di riwayatkan Muslim, dalam bukunya “ As Shohih “, dari Ibnu Abbas ra, bahwa orang-orang Anshor pada suatu hari, ketika duduk bersama nabi Muhammad saw, tiba-tiba mereka melihat bintang atau meteor yang bergeser, kemudian Rosulullah saw bertanya kepada para sahabat Anshor yang ada di situ: “ Bagaimana keyakinan kalian pada masa Jahiliyah , ketika melihat kejadian seperti ini ?? Mereka menjawab : “ Kami dahulu berkeyakinan bahwa bergesernya bintang atau jatuhnya meteor merupakan tanda lahir atau meninggalnya seorang pembesar. Mendengar jawaban itu, Rosulullah saw bersabda:

إنه لا يرمى بها لموت أحد ولا لحياته ، ولكن الله إذا قضى بالأمر سبح حملة العرش

“ Sesungguhnya bergesernya bintang atau jatuhnya meteor, tidaklah menunjukan kematian atau kehidupan seseorang, akan tetapi jika Allah memutuskan sesuatu, maka para pembawa Arsy ( para malaikat ) pada bertasbih “.

Inilah hakikat ilmu perbintangan, sebagaimana yang telah di sebutkan Ibnu Taimiyah diatas. Semua ilmu yang mengandung unsur-unsur seperti itu, maka haram untuk dipelajarinya dan orang Islampun dilarang mempercayainya. Kenapa ? Karena keyakinan seperti itu bertentangan dengan Aqidah Islamiyah yang mengajarkan kepada kita bahwa semua yang ada di bumi ini tidak akan terjadi kecuali atas kehendak dan taqdir Allah swt, tidak ada kaitannya dengan apa yang terjadi di langit. Begitu juga, semua orang tidak akan tahu apa yang akan terjadi di bumi ini, karena termasuk hal-hal ghoib yang hanya Allah-lah yang mengetahuinya, kecuali apa yang telah disebutkan Allah di dalam Al Quran dan disebutkan Rosulullah saw di dalam hadits, keduanya merupakan bentuk wahyu dari Allah swt. Selain itu, tidak berhak bagi siapapun juga untuk mengaku bahwa dia mengetahui peristiwa yang akan terjadi pada masa mendatang dengan menggunakan ilmu perbintangan.

Namun demikian, hal itu tidak menutup kemungkinan bahwa Allah menjadikan peristiwa di langit sebagai salah satu sebab terjadinya bencana di muka bumi ini atau salah satu sarana untuk mengadzab suatu kaum, seperti halnya ketika Allah menghancurkan kaum ‘Aad dengan angin yang sangat kencang tepat pada waktunya yaitu diakhir musim dingin. Yang jelas, itu semua atas kehendak Allah swt. Oleh karenanya, ketika terjadi sebuah peristiwa besar di langit, kita umat Islam di perintahkan untuk tadharru’( bersimpuh ) di hadapan Allah dengan memperbanyak ibadah, seperti sholat, dzikir, istighfar dan bersedekah, sebagaimana yang dianjurkan Rosulullah saw ketika terjadi gerhana matahari pada waktu itu. Bahkan, perintah tersebut bukan terbatas ketika terjadi gerhana matahari dan bulan saja. Ketika ada tanda- tanda akan terjadinya malapetaka, atau bencana alam serta kejadian-kejadian besar lainnya yang membahayakan kehidupan manusia, kita diperintahkan juga untuk memperbanyak ibadah , istighfar dan bersedekah, karena amalan- malan tersebut merupakan salah satu sarana menolak malapetaka ( menolak bala’).


Penulis akan sebutkan beberapa dalil saja yang menguatkan pernyataan diatas, yaitu dalam surat Al Anfal , ayat : 33, Allah swt berfirman:

وما كان الله ليعذبهم وأنت فيهم وما كان الله معذبهم وهم يستغفرون

“ Dan Allah sekali-kali tidak mengadzab mereka, sedang kamu berada diantara mereka, dan tidaklah pula Allah mengadzab mereka, sedang mereka beristighfrar “

Sungguh Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya. Bukan itu saja, bahkan istighfar ( tentunya dengan ikut menyertakan hatinya ) akan mendatangkan rizqi dan kekuatan yang luar biasa. Allah swt berfirman :

فقلت استغفروا ربكم إنه كان غفارا يرسل السماء عليكم مدرارا ويمدكم بأموال وبنين ويجعل لكم جنات ويجعل لكم أنهارا

“ Maka aku ( nabi Nuh as ) katakan kepada mereka : “ Beristighfar-lah ( mohonlah ampun ) kepada Robb kalian. Sesunguhnya Dia adalah Maha pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat ( ketika musim paceklik ) dan akan melimpahkan kepada kalian harta dan anak keturunan, serta menjadikan kebun-kebun dan sungai –sungai “ ( QS Al- Nuh, 10-12 ).

Dalam ayat lain, Allah swt berfirman :

ويا قوم استغفروا ربكم ثم توبوا إليه يرسل السماء عليكم مدارا ويزدكم قوة إلى قوتكم

“ ( Nabi Hud as berkata ) : “ Wahai kaumku beristighfar-lah kalian kepada Allah dan bertaubatlah kepada-Nya, niscaya Allah akan menurunkan hujan yang lebat kepada kalian, dan Dia akan menambahkan kekuatan atas kekuatan kalian “ ( QS. Hud, 52 )

ZODIAC JAHILIYAH

Termasuk kebiasaan jahiliyah yang berkenaan dengan ilmu perbintangan adalah menebak dan menentukan nasib dan sifat seseorang dengan mengaitkan bintang-bintang yang ada di langit , seperti : Aries, Taurus, Gemini, Cancer, Leo, Virgo, Libra, Scorpio, Sagitarius, Capricon, Aquarius, Pisces.

Sebagai contoh saja, orang yang lahir antara tanggal 22 Desember – 19 Januari, maka dia mempunyai bintang CAPRICORN , yang mengatakan kepada anda bahwa keuangannya kurang stabil, tapi kesehatannya relatif baik, hari Minggu adalah hari baiknya, angka bahagianya adalah 2 – 7. Yang lahir antara 20 Januari- 18 Pebruari, maka dia mempunyai bintang AQUARIUS , yang menyebutkan bahwa, situasi minggu ini usahanya kurang menentu. Keuangannya bakal ada sedikit masalah, hari baiknya adalah hari Sabtu. Angka bahagianya adalah 4 - 9. Yang lahir antara tanggal 19 Pebruari – 20 Maret, dia mempunyai bintang PISCES, yang menyatakan bahwa keadaannya secara umum lumayan bagus dan usahanya akan tampak hasilnya secara nyata, keuangannya cukup lancar. Kesehatannya tak ada masalah. Asmaranya , ada masalah namun kalau siap menghadapinya bisa diselesaikan dengan baik. Hari baiknya adalah Rabu. Angka bahagianya 1 – 4, dan seterusnya.

Seorang muslim yang beriman kepada Allah dan rosul-Nya tidak boleh mempercayai ramalan bintang- bintang tersebut, apalagi menjadikannya sebagai bintang kebanggaan-nya yang kemudian di tempel di tembok- tembok , di buku-buku, di lemari bahkan di tempat tidur. Ramalan- ramalan tersebut sangat bertentangan dengan Al Quran , As Sunnah dan akal sehat, serta kenyataan di lapangan.

Bertentangan dengan Al Quran, yaitu dalam Surat Luqman , ayat : 34 , Allah berfirman :

وما تدري نفس ماذا تكسب غدا

“ Dan tiada seorangpun dapat mengetahui dengan pasti apa yang akan diusahakannya besok “

Ini adalah salah satu ilmu ghoib yang hanya dimiliki Allah saja, dari mana mereka bisa mengetahuinya ?? Juga bertentangan dengan hadits Rosulullah saw, sebagaimana yang telah disebutkan di atas, yaitu larangan mempelajari dan menyakini ilmu perbintangan, karena ilmu tersebut termasuk dari bagian ilmu sihir, dan salah satu bentuknya adalah ramalan-ramalan ini. Juga bertentangan dengan akal sehat, karena orang yang berakal sehat tentunya tidak mau menunggu dan menerima nasibnya seperti itu, dia akan berusaha bagaimana mencapai suatu kehidupan yang lebih baik. Hanya oarang-orang bodoh saja yang mempercayai ramalan bintang seperti itu. Juga bertentangan dengan kejadian di lapangan, karena secara kenyataan, banyak orang yang lahir pada waktu tertentu dengan bintang yang ada, sifat dan keadaannya sangat berbeda dengan yang tertera di dalam ramalan-ramalan jahiliyah di atas.
Penulis akan berikan satu kejadian yang menunjukkan kebohongan ilmu perbintangan ( ilmu nujum ) tersebut. Yaitu ketika kholifah Ali bin Abi Tholib ra beserta tentaranya ingin berangkat memerangi pasukan Khowarij, tiba- tiba datang seorang ahli nujum menemui Imam Ali , seraya berkata : “ Wahai Amirul Mukminin jangan berangkat, karena sekarang bulan sedang pada posisi sedang tenggelam ( SCORPION ) , kalau engkau tetap berangkat sedang kedaan bulan seperti itu ( SCORPION ) , maka tentaramu pasti akan kalah “ . Mendengar hal itu, Imam Ali bukannya mengkeret, gemetar dan mengurungkan niatnya untuk berperang, bahkan sebaliknya, justru semangat beliau bertambah, seraya berkata : “ Saya tetap akan pergi dengan berbekal Iman kepada Allah dan bertawakkal kepada-Nya saja, segaligus untuk membongkar kebohongan-mu, !! “. Maka beliau tetap berangkat , sehingga akhirnya bisa mengalahkan tentara Khowarij. Kemenangan tersebut membuat gembira kholifah Ali ra., karena beliau berhasil menyelesaikan dua perkara dalam satu waktu, yaitu ; memerangi pasukan Khowarij atas perintah Rosululah saw, sekaligus bisa membuktikan kebohongan ahli nujum ( ahli astrologi).

Dalam hal ini Qotadah, salah seorang ulama pada zaman tabi’in pernah memberikan pernyataan yang sangat jelas dan tegas dengn menolak teori ilmu perbintangan ( astrologi ) yang telah menyebar pada waktu itu : “ Sesungguhnya orang- orang yang bodoh akan ajaran Allah, telah menyelewengkan keberadaan bintang- bintang tersebut dari fungsi yang sebenarnya, mereka menjadikannya sebagai alat perdukunan, mereka mengatakan barang siapa yang mengadakan acara pernikahan pada waktu bintang si fulan (Gemini, umpamanya), maka akan terjadi peristiwa tertentu, dan barang siapa yang melakukan perjalanan pada waktu bintang si fulan ( Leo, umpamanya ), maka akan terjadi peristiwa tertentu, dan seterusnya.., Sungguh tiada satu bintang pun yang muncul, kecuali pada waktu itu lahir anak berwarna merah dan hitam, pendek dan panjang, cantik dan jelek. Bintang- bintang tersebut, begitu juga binatang- binatang yang melata dan burung-burung yang ada , semua itu sekali- kali tidak mengetahui sesuatu yang ghoib. Kalau seandainya ada seseorang yang boleh mengetahui yang ghoib, maka Adam-lah yang paling berhak mengetahuinya, karena Allah menciptakannya langsung dengan tangan-Nya , dan memerintahkan para Malaikat untuk sujud kepadanya, serta mengajarkan kepadanya segala sesuatu “


RAMALAN CUACA

Di dalam kasus ramalan cuaca, penulis akan menukilkan perkataan Imam Al Khottobi, salah satu ulama ( pensyareh hadits ) , beliau mengomentari hadits larangan mempelajari ilmu perbintangan yang tersebut di atas sebagai berikut : “ Ilmu Perbintangan yang di larang di dalam Islam adalah ilmu perbintangan yang digunakan untuk mengetahui kedaan alam, peristiwa- peristiwa yang akan terjadi pada masa mendatang, seperti waktu datangnya angin dan turunnya hujan, perubahan cuaca dan sejenisnya , semua itu, menurut pengakuan mereka, bisa diketahui dengan melihat bintang-bintang pada peredarannya, atau ketika bintang-bintang tersebut berkumpul dan berpisah, mereka mengganggap bahwa perjalan bintang- bintang tersebut mempunyai pengaruh dengan kejadian yang ada di bumi. Itu semua adalah kebohongan di dalam masalah-masalah ghoib, dan sebuah bentuk campur tangan terhadap masalah- masalah yang tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah “.

Secara sekilas pernyataan Imam Khottobi tersebut, terkesan aneh dan menentang arus. Karena isinya melarang orang Islam untuk mempelajari Ilmu Astrologi dan mempercayai ramalan cuaca, yang nota benenya adalah hasil kemajuan ilmu pengetahuan yang disarankan dalam Islam. Kesimpulan Imam Khotthobi tersebut didasarkan pada hadits Ibnu Abbas diatas. Namun, menurut hemat penulis, pernyataan Imam Khottobi tersebut, masih bersifat umum dan global, sehingga perlu di pertajam dan di perjelas lagi. Sebelum masuk pada inti masalah, penulis akan menukil dahulu firman Allah di dalam surat Luqman :

وينزل الغيث ويعلم ما في الأرحام

“ Dan Dialah ( Allah ) yang menurunkan hujan dan mengetahui apa yang ada di dalam rahim ”(QS. Luqman : 34 ).

Ayat diatas menunjukkan bahwa Allah-lah yang mengetahui apa yang ada di rahim. Dan pengetahuan tentang apa yang di dalam rahim, menurut tafsir ( QS Al An’am : 59 dan QS Luqman: 34 ) adalah termasuk salah satu kunci-kunci ghoib yang tidak ada yang bisa mengetahuinya kecuali Allah. Namun dengan kemajuan teknolgi zaman sekarang, hanya dengan menggunakan alat Ultrasonografi, seorang ibu hamil yang sudah berumur 7 bulan kehamilan atau bahkan sebelumnya, sudah mampu mengetahui keadaan janin yang ada di dalam rahimnya, apakah dia seorang laki- laki atau perempuan, dalam keadaan sehat atau kurang gizi, anggota tubuhnya normal atau cacat dan lain- lainnya. Lha bagaimana dengan bunyi surat Luqman ayat 34 di atas ??? sebuah pertanyaan yang sering mengganjal dalam diri seorang muslim.

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita harus tetap yakin bahwa Al Quran adalah Al- Haq, yang mempunyai kebenaran mutlak dan tidak boleh di ganggu gugat. Tetapi dalam sisi lain, kita harus yakin juga bahwa Al Quran tidak menentang atau bertentangan dengan ilmu pengetahuan. Oleh karenanya, para ulama telah menjelaskan tafsir surat Luqman ayat 34 diatas, bahwa manusia boleh saja mengetahui keadaan janin yang masih dalam kandungan dengan kecanggihan teknologi yang di milikinya, namun pengetahuan tersebut walaupun bagaimanapun canggihnya, tidak akan sempurna , buktinya banyak kejadian yang menyatakan bahwa perkiraan ultrasonografi sering salah dan tidak sesuai dengan kenyataan. Itu semua menunjukan bahwa hanya Allah- lah yang benar-benar mengetahui keadaan janin tersebut secara mendetail, tepat serta sempurna.

Jawaban para ulama terhadap teori embriologi tersebut, bisa kita analogikan untuk menjawab teori astrologi dan ramalan cuaca. Pengetahuan seorang astrolog terhadap kemungkinan akan datangnya hujan, atau bertiupnya angin kencang, atau timbulnya petir yang menggelegar, adalah pengetahuan yang sedikit dan bersifat parsial. Kemungkinan salah, sangat mungkin terjadi. Oleh karenanya, perkiraan seorang astrolog sekedar bahan agar kita mempersiapkan diri, namun hal itu tidak boleh kita jadikan standar. Kita tetap menyandarkan diri hanya kepada Allah swt, karena Dia-lah pelaku yang sebenarnya. Dengan demikian, yang dilarang dalam Islam adalah menyakini bahwa ramalan tersebut benar adanya dan menyandarkan semuanya pada astrolog. Sebagaimana kita di larang untuk menyakini bahwa dokter-lah yang menyembuhkan penyakit, karena sebenarnya yang menyembuhkan penyakit adalah Allah, dokter sekedar perantara, itupun banyak yang gagal. Allah berfirman menceritakan keyakinannya nabi Ibrohim

وإذا مرضت فهو يشفين

“ Dan apabila aku sakit, maka Allah-lah yang menyembuhkan aku “ ( QS As Syu’ara’ :80 )

Dari keterangan di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa Islam telah mampu menggabungkan antara aqidah dan ilmu pengetahuan. Aqidah adalah dasar kehidupan kita sehari-hari yang tidak boleh diganggu gugat , sedang ilmu pengetahuan adalah sekedar sarana, yang kebenarannya nisbi dan tidak mutlak. Maka hendaknya kita selalu menyandarkan kepada kebenaran yang mutlak ( Allah swt), tanpa harus membuang kebenaran nisbi. ( Ilmu pengetahuan ). Wallahu a’lam.