Tampilkan postingan dengan label BANTAHAN MATAHARI MENGELILINGI BUMI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BANTAHAN MATAHARI MENGELILINGI BUMI. Tampilkan semua postingan

Minggu, 23 September 2012

BANTAHAN BUKU MATAHARI MENGELILINGI BUMI (Bag 2)

Oleh Ustadz Syamsu Alam Ardamansa

KEKELIRUAN MAKRO DALAM BUKU MMB? 

Kekelirun makro adalah kekeliruan dalam memahami dan menempatkan makna suatu kata yang menyebabkan penyimpangan makna kalimat secara utuh. Ini berdampak pada terjadinya penyimpangan makna ayat Alqur'an. Contohnya: ungkapan "RAWAASIYA" diterjemahkan begitu saja dengan arti "gunung-gunung". Padahal "gunung-gunung" atau "pegunungan" dalam bahasa sederhana adalah deretan keriput kulit bumi yang muncul dan terlihat di atas muka laut, dengan ketinggian bisa mencapai ribuan meter. Dan di bawah muka lautpun sebenarnya ada gunung-gunung itu. 

Untuk peristilahan "gunung-gunung" atau "pegunungan" Alqur'an menggunakan ungkapan yang lebih tepat : "ALJIBAAL". Plural dari kata "JABALUN". Makna ungkapan "ALJIBAAL" tidak sama dengan "RAWAASIYA" dan tidak bisa seenaknya disamakan begitu saja. Kedua kata tersebut dalam Alqur'an sangat jauh berbeda maknanya terutama bila ditinjau dari sisi kebumian. Contoh Kesalahan ini mungkin disebabkan Ahmad Sabiq memang tidak memahami masalah kebumian. Dan ia bertindak hanya sebagai seorang penulis belaka, yang menyalin berbagai sumber sesuai pandangannya, tanpa analisa sedikitpun. Akibatnya bahwa Ahmad Sabiq mengajak pembaca bertaqlid, tanpa analisis.
Hal ini bertentangan dengan qaedah Alqur'an Surat Isra' (17): ayat 36.
 ولا تقف ما ليس لك به علم، إن السمع و البصر والفؤاد كل ألئك كان عنه مسئولا 

Para pembaca disilahkan membuka Alqur'an sesuai petunjuk ayat tersebut. ----------------------------------------------------------------- 
Dimana inti persoalan pembahasan Ahmad Sabiq berdasarkan judul buku?

Inti persoalan dari kajian Ahmad Sabiq dalam buku itu, adanya di bab 5 dengan judul "Matahari mengelilingi Bumi sebuah kepastian Al-Qur'an dan As-Sunnah serta kesepakatan para Ulama". Entah mana yang dia maksudkan kesepakatan para ulama. Namun, Ahmad Sabiq terjebak dalam perdebatan antara penganut "heliosentris" dan "geosentris". Ternyata dia lebih berpihak kepada pandangan Aristoteles dan Ptolomeus dalam "geosentris" dengan perinsip bahwa "bumi adalah pusat jagad raya". Dan seolah menyalahkan penganut "heliosentris" yang diseponsori oleh Copernicus dan Kepler, yang menganggap bahwa "matahari adalah pusat jagad raya". Sayang sekali, jika dilihat dari halaman 105 s/d 113 dalam buku tersebut ternyata Ahmad Sabiq tidak mendapatkan informasi akurat tentang perkembangan ilmupengetahuan dengan kemajuan teknologi tentang antariksa atau alam makrokosmos. Ahmad Sabiq ketinggalan kereta yang membawa informasi itu. Bahwa kedua perinsip itu, baik "heliosentris" maupun "geosentris" telah ditinggalkan jauh sebagai kenang-kenangan historis. Dan kedua perinsip itu, ternyata tidak sejalan dengan Alqur'an. Ammaa ba'du. Bagaimana bisa Ahmad Sabiq, kemudian, begitu berani memaparkan bahwa itu pasti dalam Alqur'an ??? Keberanian Ahmad Sabiq memang melebihi dari argumen dan analisa yang dipaparkannya. Bahkan ia telah menertawakan dan menganggap lucu ajaran guru SD yang pernah mengajarkan paham "bumi mengelilingi matahari". (Lihat bukunya halaman 109). 

Mari kita soroti pandangannya dalam bab 5 mulai halaman 114. Terdapat empat dalil yang dikemukakan untuk mendukung pandangannya bahwa "Matahari mengelilingi Bumi". Keempat dalil itu adalah sebagai berikut; 
Pertama : Dalil bahwa bumi diam dan tidak bergerak 
Kedua : Dalil bahwa matahari bergerak. 
Ketiga : Kesepakatan para Ulama akan hal itu. 
Keempat : Realita yang terpampang dihadapan kita.

Marilah kita soroti dalil pertama. Bahwa Bumi diam tidak bergerak. 

Untuk memahami bahwa bumi diam dan tidak bergerak maka Ahmad Sabiq mengemukakan sejumlah 25 ayat Alqur'an dalam bukunya mulai halaman 114 sampai di halaman 127. Namun hanya ada 2 ayat yang menjadi sandaran utama dan perlu untuk kita komentari, yakni Surat Fathir (35):41 dan Rum (30):25. Ayat-ayat lainnya merupakan tambahan penjelasan terhadap kedua ayat tersebut. Yang kita soroti adalah cara dan analisa yang diterapkan Ahmad Sabiq terhadap kedua ayat itu. Yang Pertama: Mari kita soroti bagaimana pandangan Ahmad Sabiq terhadap ayat 41 Surat Fathir(35). Pada ayat tersebut terdapat ungkapan kata kerja "YUMSIKU" yang diartikan "menahan". Atas dasar terjemahan kata "menahan" tersebut dipahami oleh Ahmad Sabiq, bumi diam tidak bergerak. Kita kutip terjemahan buku itu selengkapnya. (Kata "Alloh" kita kembalikan menjadi "Allah"). "Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya jangan bergeser, dan sungguh jika keduanya akan bergeser tidak ada seorangpun yang dapat menahan keduanya selain Allah. Sesungguhnya Dia itu Maha Penyantun lagi Maha Pengampun". Berdasarkan pada pemahaman ayat tersebut maka Ahmad Sabiq mendakwahkan bahwa bumi diam tidak bergerak karena ditahan oleh Allah. Seandainya bumi bergerak mengelilingi matahari berarti dia bergeser dari satu tempat ke tempat lainnya, itu bertentangan dengan ayat di atas, demikian yng dipahami Ahmad Sabiq (dalam bukunya halaman 115). Kalau dibayangkan, dari pemaparan Buku Ahmad Sabiq, posisi diamnya bumi, kira-kira maksudnya sama dengan "bola kaki" yang ditahan oleh penjaga gawang. Ini cuma perkiraan saja untuk menyimak maksud Ahmad Sabiq dalam buku itu. Pada halaman 126 Ahmad Sabiq menampilkan ayat 65 Surat Al-Hajj (22), yang dijadikan sebagai pendukung. Pada ayat itu juga terdapat kata "YUMSIKU" diartikan "menahan". Kita kutip seperlunya terjemahan penggal ayat tersebut: "....... Dan Dia menahan (benda-benda) langit jatuh ke bumi. ....... dst". Tetapi buku Ahmad Sabiq tidak membicarakan tentang makna "Yumsiku" lebih lanjut. Ia lebih berfokus pada posisi bumi, bahwa ayat tersebut menekankan makna posisi bumi sebagai pusat jatuh benda-benda langit. Oleh karena itu bumi tidak boleh bergeser. Karena kalau bumi bergeser, bagaimana bisa bumi jadi pusat jatuh; sedangkan ayat menyatakan bumi pusat jatuh. Inti pemahamannya bahwa bumi sebagai pusat jatuh tidak boleh bergeser dari tempatnya. Begitulah kira-kira maunya Ahmad Sabiq dalam memaknakan posisi bumi diam, tidak bergerak; melalui bukunya di halaman 126.  Bersambung................

Rabu, 28 September 2011

BANTAHAN BUKU MATAHARI MENGELILINGI BUMI (bag. 1)

Oleh Ustadz Syamsu Alam Ardamansa

Pada Bulan Juni 2007 M yang lalu di gedung Al-Mukhsinin Al-Khaerat Palu Sulawesi Tengah dilaksanakan acara Bedah Buku. Judul Buku yang dibedah adalah "MATAHARI MENGELILINGI BUMI, Sebuah Kepastian Al-Qur'an dan As-Sunnah, serta bantahan terhadap teori Bumi Mengelilingi Matahari". Sebagai Nara Sumber utama ialah Ustadz Ahmad Sabiq bin Abdul Latif Abu Yusuf, penulis buku itu sendiri. Buku tersebut diterbitkan oleh Pustaka Al-Furqon (Ponpes Al Furqon Al Islami, Srowo-Sidayu-Gresik). Sebagai Nara Sumber kedua, selaku pembanding didatangkan dari Universitas Tadulako seorang dosen Jurusan Fisika. Acara bedah buku tersebut menarik perhatian berbagai kalangan karena judul buku yang dibedah tersebut seolah merupakan sesuatu yang baru. Ustadz. Syamsu Alam Ardamansa turut hadir sebagai peserta dalam acara itu dengan tujuan memberikan koreksi seperlunya. Pada kesempatan itu Ustadz Ardamansa menyerahkan sebuah makalah kepada panitia dengan harapan bisa dibacakan tetapi mungkin karena keterbatasan waktu maka tidak sempat dibacakan. Apa yang menarik dari buku Ahmad Sabiq? Berikut komentar ustadz Ardamansa:
Buku tersebut terbit dengan jumlah halaman 220 bolak-balik, cetakan keempat sebagai edisi revisi. Total isi berjumlah sembilan bab dilengkapi 78 rujukan daftar pustaka. Tetapi jumlah daftar pustaka yang ditampilkan tidak sebanding dengan isi buku. Terkesan Jumlah daftar pustaka lebih berbobot dari pada isi buku.
Apa kira-kira tujuan penulis menyajikan buku itu?
Ada 5 misi yang dikembangkan dalam buku itu; Ke lima misi itu pada dasarnya mengajak kaum muslimin berprilaku sesuai pola salafiyah. Sebagai contoh salah satunya, yakni: misi ke 5, mengajak kaum muslimin untuk memulai hidup baru dalam naungan manhaj (metode) Salaf Ahlus Sunnah wal Jama'ah. Alhamdulillah.

Niat kita adalah meluruskan isi buku bukan membantah. Jika pada judul bukunya digunakan kalimat ".......sebuah penafsiran berdasarkan Al-Qur'an dan As-Sunnah......" maka kita selaku Umat Muslim tidak perlu keberatan, no problem, karena kita diajarkan menghargai penafsiran atau pendapat siapa saja, sepanjang hal itu tidak bersifat penyesatan, penghinaan atau pelecehan. Tetapi disana tertulis kalimat "....sebuah Kepastian Al-Qur'an dan As-Sunnah......", ini kan merupakan kalimat penyesatan tanpa sadar. Bagaimana bisa ia pastikan, bukankah ia hanya menafsirkan atau hanya menyalin tafsiran orang lain lalu berkata ini sebuah kepastian Al-Qur'an dan As-Sunnah. Karena membawa nama Alqur'an itulah perlu kita koreksi, supaya diketahui oleh khalayak ramai bahwa dalam buku tersebut banyak terdapat kekeliruan yang dapat menyesatkan dan meremehkan kandungan Alqur'an sebagai kitab suci. Maka kepada khususnya Umat Muslim diserukan untuk melakukan tela'ah keritis terhadap isi buku itu sebelum menerima atau menolak pandangannya. Kepada umum non-Muslim yang telah membeli dan membaca buku itu; kami sampaikan maaf; sesungguhnya Alqur'an itu suci dan bersih dari cara berpikir Ahmad Sabiq yang terpola dalam penulisan buku itu. Jangan kiranya hal itu kemudian dijadikan bahan reference.
Sekalipun demikian usaha Utz Ahmad Sabiq tetap dihargai sebagai suatu upaya ijtihad sambil melakukan peninjauan kembali terhadap judul bukunya, sebagai bukti i'tiqad baiknya. Apa yang perlu disoroti dalam buku itu? Mari kita ikuti penjelasan oleh Utz Ardamansa selanjutnya.
Ya, karena judul buku berkaitan dengan isinya, maka isi buku itulah yang harus disoroti. Ada sejumlah kekeliruan dalam buku tersebut. Mulai dari kekeliruan mikro sampai kekeliruan makro.

Apa contoh kesalahan atau kekeliruan mikro itu?
Kekeliruan mikro biasanya dianggap sepele saja oleh penulis. Contohnya : penulisan kata "Alloh", seharusnya ditulis sesuai lafaz aslinya berbaris fathah. Tidak ada huruf "O" itu. Mengganti "Allah" menjadi "Alloh" adalah kesalahan fatal sebagai penghinaan tanpa sadar. Ketika dikoreksi dalam acara bedah buku itu, ternyata jawaban Ahmad Sabiq dalam melakukan penulisan buku itu, terkesan lebih mementingkan "kepuasan bathin dirinya dan kelompoknya", dari pada mengikuti keaslian lafaz "Alqur'an". Ulama mana dari kalangan salaf as-shalihiyn yang pernah mengajarkan adanya lafaz "O" itu? Inilah contoh kesalahan mikro dari pola pikir Ahmad Sabiq, yang berdampak tidak memurnikan ajaran Islam. Hal demikian jelas bertentangan dengan misi kedua dalam bukunya, "memurnikan syariat Islam dari segala bentuk syirik, bid'ah, dan pemikiran sesat". Bukankah mengganti kata "Allah" menjadi "Alloh" merupakan bagian dari menyisipkan "pemikiran sesat" yang tanpa disadari ?. Memang kita berusaha menuliskan penyebutan lafaz menurut kebiasaan dan kemampuan kita, tetapi penulisan jangan sampai merubah bunyi dasar lafaz asli. Sebagai contoh : kalangan Elit Arab di Palu kalau menyebut sabda Nabi SAW, begini bunyinya: "gaala Rasulullah", terdengar nada huruf "G". Tetapi tidak satupun dari mereka yang mengganti tulisannya sesuai bunyi yang mereka kehendaki. Kalau mereka tulis dalam Bahasa Indonesia tetap mengikuti lafaz aslinya yaitu: "Qaala". Huruf "Q" mengikuti huruf "Qaf". Ini yang kita sebut Ikhlash mengikuti keaslian lafaz Alqur'an.
Bersambung.......Bantahan MMB bag 2

HADITS SUJUDNYA MATAHARI

Oleh Mamduh Farhan Buhairi

Berikut Pembahasan sekitar jawaban terhadap syubhat hadits tentang sujudnya matahari:
Silakan yang mau download:
DOWNLOAD SUJUDNYA MATAHARI                                                            

Sumber : Majalah Qiblati

Selasa, 02 Agustus 2011

BUKU MATAHARI MENGELILINGI BUMI

Telah Beredar Buku Matahari Mengelilingi Bumi.
Telah berabad-abad diajarkan di bangku pendidikan, dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi, bahwa bumi bergerak mengelilingi matahari sekali dalam setahun, dan bumi juga berotasi sekali dalam sehari semalam yang mengakibatkan seakan-akan matahari bergerak dari timur ke barat setiap harinya.
Apakah ini sebuah kebenaran yang mesti kita yakini ataukah kita selama ini berada dalam sebuah kebohongan ilmiah?
Apakah memang bumi yang mengelilingi matahari ataukah malah sebaliknya bahwa bumi adalah pusat jagat raya sedangkan semua benda langit-termasuk matahari-mengelilingi bumi?


Silakan miliki untuk wawasan. Berikutnya  akan kami ketengahkan bantahan tentang buku tersebut (Matahari Mengelilingi Bumi) yang ditulis oleh Syaikh Mamduh Farhan Buhairi di Majalah Qiblati. Insya Alloh.....