Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan

Minggu, 14 Oktober 2012

Pendidikan Anti Korupsi

Pendidikan Anti Korupsi



Pendidikan anti korupsi di sekolah dapat dilaksanakan menggunakan dua jalur. Pertama, disisipkan dalam semua pelajaran. Langkah awal bisa dimulai dari pelajaran pendidikan agama, PKn dan Bahasa Indonesia. Kedua, melalui kegiatan eksrakurikuler, termasuk di dalamnya kampanye anti korupsi, pembuatan majalah dinding (mading), pembagian pamlet, dan penyuluhan-penyuluhan anti korupsi dengan mengundang pakar-pakar bidang hukum maupun politik (misalnya polres, jaksa, maupun pejabat pemerintahan). Kegiatan yang lain bisa dengan menyelenggarakan berbagai lomba, seperti membuat karangan anti korupsi, pidato anti korupsi, puisi anti korupsi, karikatur anti korupsi, cipta lagu anti korupsi dan sejenisnya.

Tujuan dari pendidikan anti korupsi ini adalah menciptakan kesadaran kepada seluruh masyarakat. Dalam pendidikan anti korupsi ini harus melibatkan semua pihak, bukan hanya dari kalangan pendidikan. Sangat tidak mungkin sekolah mengajarkan anti korupsi tapi tidak memahami berbagai bentuk pelayanan masyarakat dari berbagai departemen. Karena tindak korupsi (seperti penyuapan), tentunya banyak terjadi di lembaga-lembaga tersebut.

Pendidikan anti korupsi berkewajiban untuk :

1. Mengenalkan seluk-beluk korupsi, yang meliputi pengertian, bentuk-bentuk, alasan, maupun akibat korupsi.

2. Mendukung ketegasan terhadap tindak korupsi

3. Menujukkan tindakan perang terhadap korupsi

4. Menggagas materi anti korupsi yang akan dimasukkan pada kurikulum sekolah, seperti : a) Nilai-nilai anti korupsi (demokratis, kepekaan sosial, kejujuran, peningkatan pribadi dan sebagainya, b)Memperkuat kemampuan diri (seperti berkomunikasi, berpikir kritis, mampu membuat perencanaan, mengatur waktu, keuangan dan sejenisnya, bertindak kreatif, membuat inisiatif, merdeka, bertanggung jawab, menyelesaikan konflik, kepemimpinan dan sebagainya)

Tujuan akhir pendidikan anti korupsi ini adalah membentuk pribadi yang memiliki kesadaran tinggi melawan tindak korupsi, tidak mentolerir tindak korupsi, dan mampu mengurangi tindak korupsi.

Tema Pendidikan anti korupsi

1. Konsep korupsi. Termasuk di dalamnya membedakan korupsi dengan tindak kejahatan lainnya.

2. Akibat korupsi. Meliputi akibat korupsi dari segi ekonomi, sosial, politik, dan moral. Termasuk di dalamnya bahaya yang tampak dan tersembunyi, serta korban-korban dari kejahatan korupsi.

3. Sejarah korupsi. Berisi perkembangan korupsi dari masa ke masa. Penyebab korupsi dari sisi psikologis, budaya, sosial, dan politik. Termasuk di dalamnya korupsi di ranah demokrasi (misal dalam partai politik, pemilu, dewan, pemerintah, pengadilan dan pejabat lokal lainnya)

4. Perang melawan korupsi. Termasuk di dalamnya peran masyarakat, mass media. Kekuatan perundang-undangan, kode etik, dan aturan-aturan lain. Berbagai strategi dan program untuk mencegah dan mengurangi tindak korupsi.

5. Permasalahan yang muncul dalam perang melawan korupsi.

Dalam pendidikan anti korupsi ini juga ditanamkan nilai-nilai anti korupsi. Nilai-nilai antikorupsi ini sejalan dengan pendidikan karakter yang dilaksanakan di sekolah-sekolah. Nilai-nilai antikorupsi juga telah dikenalkan oleh KPK melalui Buku Dongeng Anti Korupsi. Nilai-nilai yang dimaksud, meliputi : kerjasama, keadilan, tanggung jawab, kepedulian, kejujuran, kedisiplinan, keberanian, kegigihan, dan kesederhanaan.

Tunggu apa lagi...
Selamat berjuang..bersama-sama memberantas korupsi di sekitar diri kita terlebih dahulu.

Jumat, 12 Oktober 2012

PENDIDIKAN ANTI KORUPSI : CIKAL BAKAL KORUPSI DI SEKOLAH

PENDIDIKAN ANTI KORUPSI : CIKAL BAKAL KORUPSI DI SEKOLAH



Adakah perilaku korupsi di sekolah? Ataukah adakah tindakan-tindakan yang mengindikasikan perilaku yang menyimpang seperti kecurangan, menyogok dan sebagainya?
Sekarang, coba kita bayangkan peristiwa berikut yang sering terjadi di sekolah.




Kasus pertama

Seorang guru berbicara di depan murid-muridnya. “Sebenarnya banyak dari kalian yang nilainya tidak mencapai standar, tetapi atas baik hatinya saya maka kalian semua lulus.” Mendengar kata-kata sang guru, para murid pun bersorak-sorai. Mereka menganggap bahwa guru  tersebut adalah guru yang baik. Sedangkan ada sebagian kecil siswa, yang nilainya baik hanya terdiam.

Bagaimana pendapat tentang kasus pengatrolan nilai seperti di atas? Apakah tergolong tindak kecurangan? Apakah itu bukan bibit-bibit korupsi di negeri ini?

Kasus kedua.

Seorang anak yang mendapat nilai jelek dalam suatu pelajaran. Berharap dapat tambahan nilai, maka anak tersebut berusaha berbuat baik terhadap  gurunya. Masih wajar khan? Apakah masih menjadi wajar ketika anak tersebut mendatangi gurunya ke rumah sambil membawa kiriman buah-buahan. Ataupun membawakan hasil panenan (bagi yang di desa) untuk diberikan kepada para gurunya di sekolah.  Kemudian dengan alasan, bahwa anak tersebut dianggap sebagai siswa yang baik, maka dengan mudahnya nilai anak tersebut ditambah. Suatu hal yang sering dianggap wajar.

Bagaimana pendapat kamu dalam menghadapi kasus yang kedua?

Banyak pertanyaan yang menyangsikan, apakah korupsi yang sudah menjamur dapat diberantas melalui pendidikan anti korupsi, khususnya di sekolah? Jawabannya bisa ya atau tidak (Suparno, 2005). Bagi yang sudah terlanjur berada di dunia korupsi, baik sebagai pelaku maupun penerima akan pesimis dengan pendidikan anti korupsi. Bisa terjadi pada para orang tua yang biasa menggunakan uangnya untuk memudahkan segala urusan anak-anaknya. Misalnya memasukkan anaknya ke sekolah yang favorit, meminta tolong pada guru anaknya untuk memberikan les, sampai memberikan amplop agar anaknya dapat diterima bekerja. Dengan mengatasnamakan kepentingan seorang anak, orang tua tersebut baik sadar atau tidak telah melakukan tindakan penyuapan, sebagai salah satu bentuk korupsi.

Kasus lain, ada salah satu  orang tua kalian seringkali menerima kiriman, baik berupa makanan, barang-barang antik, elektronik, dan sebagainya. Misalnya orang tua kalian mempunyai kedudukan tinggi di suatu instansi pemerintah. Apakah pemberian itu wajar atau ada maksud tersembunyi?  Seandainya pemberian itu diterima, orang tua kamu bisa dikatakan menerima suap dalam bentuk barang. Itu belum lagi penerimaan amplop yang di lakukan di kantor atau bahkan di rumah, hanya dengan memberikan beberapa tanda tangan.

Bayangkan jika yang melakukan tindakan tersebut adalah para pejabat tinggi, para pemimpin bangsa ini. Berapa kerugian yang akan ditanggung oleh negara? Bagaimana pengaruhnya pada masyarakat? Yang kaya semakin kaya, yang miskin makin miskin kata Rhoma Irama. Hak-hak orang miskin tidak mungkin dipenuhi dengan keadaan negara yang dipenuhi orang-orang yang korupsi.

Jumat, 22 Juni 2012

Revolusi Pembelajaran

Revolusi Pembelajaran

logo savi

Pembelajaran merupakan hasil kolaborasi yang baik antara guru, siswa, dan kurikulum. Guru yang berperan sebagai penanggung jawab jalannya pembelajaran (baca : sebagai salah satu sumber belajar maupun sebagai fasilitator), siswa yang berperan sebagai pencari pengetahuan (baca : sebagai pengkonstruk pengetahuan menurut teori konstruktivisme), dan kurikulum sebagai isi dari materi itu sendiri.

Beberapa "penyakit" utama abad ke-19, telah menjangkiti para pendidik, di berbagai belahan dunia. Penyakit yang dimaksud adalah : puritanisme, individualisme, model pabrik, pemikiran ilmiah barat, pemisahan pikiran/tubuh, dominasi pria, dan media cetak.
"Penyakit" tersebut secara ringkas dapat dilihat pada tabel berikut :

PENYAKIT
GEJALA
OBAT
Puritanisme
Serius, suram, kering, kaku, dan berpusat pada guru
Belajar yang menggembirakan, mengasuh, dan berpusat pada pembelajar
Individualisme
Persaingan di antara pembelajar. Keterasingan dan putusnya hubungan
Kerja sama di antara pembelajar dalam komunitas belajar
Model Pabrik
Belajar jalur perakitan satu ukuran untuk semua. Berdasarkan waktu dan patuh pada petunjuk
Prasmanan berbagai pilihan. Berdasar hasil dan kreatif
Pemikiran Ilmiah Barat
Pendekatan belajar linier, mekanistik, dan terkotak-kotak
Pendekatan belajar holistik, kontekstual, dan saling berkaitan
Pemisahan Pikiran/Tubuh
Belajar yang kognitif, verbal, menekankan otak-kiri dan pasif secara fisik
Belajar yang memanfaatkan seluruh otak, multi-indra, dan aktif secara fisik
Dominasi pria
Tekanan pada kontrol, kecerdasan rasional, dan proses berurutan
Tekanan pada pengasuhan, kecerdasan seluruh otak, dan proses simultan
Media Cetak
Kata-kata dan konsep abstrak sebagai landasan belajar
Gambar dan pengalaman konkret sebagai landasan belajar

Sebuah revolusi pembelajaran ditawarkan oleh Program Accelerated Learning. Salah satu pendekatan yang ditawarkan oleh Accelerated Learning adalah belajar melalui pendekatan SAVI.
SAVI singkatan dari (Somatis, Auditori, Visual, dan Intelektual).
1. Somatis : belajar dengan bergerak dan berbuat
2. Auditori : belajar dengan berbicara dan mendengar
3. Visual : belajar dengan mengamati dan menggambarkan
4. Intelektual : belajar dengan memecahkan masalah dan merenung

Belajar menjadi optimal jika keempat unsur SAVI terjadi dalam satu kegiatan pembelajaran. Misalnya, orang bisa belajar sedikit dengan menyaksikan presentasi (V), tetapi mereka dapat belajar banyak jika dapat melakukan sesuatu ketika presentasi sedang berlangsung (S), membicarakan apa yang sedang mereka pelajari (A) dan memikirkan cara menerapkan informasi dalam presentasi tersebut  pada pekerjaan mereka (I).


Referensi :
Meier, Dave. 2003. The Accelerated Learning Handbook. Panduan Kreatif dan Efektif Merancang Program Pendidikan dan Pelatihan (terjemahan). Bandung : Kaifa.

Sumber gambar : http://www.tspectrum.com/images/savilogo.jpg

Rabu, 16 Mei 2012

Genius Learning Strategy

Adi W. Gunawan dalam salah satu bukunya yang berjudul Genius Learning Strategy, menjelaskan apa yang dimaksud dengan Genius Learning Strategy? Bagaimana  asumsi dasar yang digunakan? Dan prinsip-prinsip yang ditawarkan dalam Genius Learning.

Genius Learning atau lebih tepatnya disebut sebagai Holistic Learning adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan suatu rangkaian pendekatan praktis dalam upaya meningkatkan hasil proses pembelajaran. Upaya yang dilakukan ini menggunakan berbagai pengetahuan seperti cara kerja otak, cara kerja memori, neuro-linguistic programming (NLP), motivasi, konsep diri, gaya belajar, multiple intelligence (kecerdasan majemuk), teknik membaca, teknik mencatat dan sebagainya.

Metode ini, mempunyai berbagai nama yang sama/mirip, seperti Accelerated Learning,  Quantum Learning, Quantum Teaching dan yang sejenisnya. Tujuan dari berbagai metode ini dapat dikatakan mempunyai tujuan yang sama, yaitu bagaimana membuat proses pembelajaran yang efisien, efektif, dan menyenangkan.

Preposisi atau asumsi dasar yang dipakai dalam metode Genius Learning :
1. Setiap orang dilahirkan jenius
2. Kecerdasan adalah suatu fenomena yang unik
3. Konsep diri seseorang berbanding lurus dengan potensi yang ia gali dan kembangkan
4. IQ tinggi sangat membantu keberhasilan akademik, namun bukan satu-satunya faktor utama
5. Guru dapat mempengaruhi dan meningkatkan kecerdasan anak didik
6. Kecerdasan berkembang secara bertahap
7. Berpikir dapat diajarkan

Berikut adalah sembilan prinsip dalam Genius Learning
1. Otak akan berkembang dengan maksimal dalam lingkungan yang kaya akan stimulus multi sensori dan tantangan berpikir
2. Besarnya pengharapan/ekspetasi berbanding lurus dengan hasil yang dicapai
3. Lingkungan belajar yang "aman" adalah lingkungan belajar yang memberikan tantangan tinggi namun dengan tingkat ancaman yang rendah
4. Otak sangat membangkitkan umpan balik yang bersifat segera dam mempunyai banyak pilihan
5. Musik membantu proses pembelajaran
6. Ada beberapa alur dan jenis memori yang berbeda yang ada pada otak kita
7. Kondisi fisik dan emosi saling berkaitan  dan tidak dapat dipisahkan
8. Setiap otak adalah unik dengan kapasitas pengembangan yang berbeda berdasarkan pada pengalaman pribadi
9. Walaupun terdapat perbedaan fungsi  antara otak kiri dan otak kanan, namun kedua belah hemisfer ini bisa bekerja sama dalam mengolah suatu informasi.


Sumber : Gunawan, Adi W. 2003. Genius Learning Strategy. Gramedia Pustaka Utama 

Senin, 14 Mei 2012

SEKOLAH PARA JUARA : MENERAPKAN MULTIPLE INTELLIGENCES DI DUNIA PENDIDIKAN

SEKOLAH PARA JUARA : MENERAPKAN MULTIPLE INTELLIGENCES DI DUNIA PENDIDIKAN

Judul asli buku ini adalah Multiple Intelligences in the Classroom-2nd edition karya Thomas Armstrong.
Di Indonesia buku ini diterjemahkan oleh Yudhi Murtanto, disunting oleh Rina S. Marzuki, dan diterbitkan oleh Penerbit Kaifa Bandung.

Pada bagian depan, Hernowo memberikan pengantar yang diawali dengan cerita mengenai kegagalan pendidikan yang berasal dari dunia binatang. Para binatang gagal memiliki prestasi yang diharapkan karena dipaksa melakukan sesuatu hal-hal yang tidak menghargai sifat alami mereka.
Teori Kecerdasan Majemuk (KM) yang ditemukan oleh Howard Gardner, menjadi "alat" yang ampuh bagi Armstrong untuk menimbulkan paradigma baru berkaitan dengan sekolah.
Pertama, dahulu sekolah (baca guru) membedakan siswanya menjadi dua kelompok, yaitu siswa pandai dan bodoh. Menurut teori  Kecerdasan Majemuk (KM) tidak ada siswa yang bodoh.
Kedua, dahulu suasana kelas cenderung monoton dan membosankan. Dengan delapan cara mengajar yang bertumpu pada delapan jenis kecerdasan, pembelajaran lebih variatif (menggairahkan dan menyenangkan).
Ketiga, dahulu, seorang guru mungkin kesulitan membangkitkan minat dan gairah murid-muridnya. Dengan Kecerdasan Majemuk, masalah tersebut dapat diatasi dengan cepat.

Hernowo juga mencontohkan salah satu sekolah yang sudah menerapkan teori Kecerdasaran Majemuk (KM), yaitu SMU (Plus) Muthahhari, Bandung yang didirikan oleh Jalaluddin Rakhmat. Kurikulum yang dikembangkan di SMU Muthahhari, selain diarahkan agar siswa menguasai beberapa kompetensi, juga ditujukan agar para siswa mampu meningkatkan harga dirinya dengan meraih berbagai prestasi.
Pada bagian akhir, Hernowo menunjukkan pentingnya teori Kecerdasan Majemuk (KM) dalam menyukseskan kurikulum di Indonesia dengan KBK-nya.

Buku  Multiple Intelligences in the Classroom-2nd edition, juga diberi pengantar langsung oleh Howard Gardner yang memberikan apresiasi yang tinggi dengan tulisan Armstrong yang akurat, jelas, referensi luas, dan cara penyampaian yang sesuai untuk para pendidik.

Buku ini terdiri dari 14 Bab, yaitu :
Bab 1 Dasar-Dasar Teori Kecerdasan Majemuk
Bab 2 KM dan Perkembangan Kepribadian
Bab 3 Menilai Kecerdasan Majemuk Siswa
Bab 4 Mengajarkan KM kepada Siswa
Bab 5 KM dan Pengembangan Kurikulum
Bab 6 KM dan Strategi Pengajaran
Bab 7 KM dan Lingkungan Kelas
Bab 8 KM dan Manajemen Kelas
Bab 9 Sekolah KM
Bab 10 KM dan Penilaian
Bab 11 KM dan Pendidikan Khusus
Bab 12 KM dan Kemampuan Kognitif
Bab 13 Beberapa Penerapan Teori KM yang lain
Bab 14 KM dan Kecerdasan Eksistensial

Singkatnya melalui buku ini,  teori KM Howard Gardner menjadi sangat praktis untuk diterapkan para pendidik di sekolahnya.

Minggu, 01 April 2012

DAMPAK TEORI MULTIPLE INTELLIGENCES DALAM PENDIDIKAN

DAMPAK TEORI MULTIPLE INTELLIGENCES DALAM PENDIDIKAN

Teori multiple intelligences atau kecerdasan ganda ditemukan dan dikembangkan oleh Howard Gardner seorang  profesor pendidikan dari  Harvard University, Amerika Serikat. Menurut Gardner, intelegensi adalah kemampuan untuk memecahkan persoalan dan menghasilkan suatu seting yang bermacam-macam dan situasi yang nyata.

Gardner menggolongkan adanya 9 inteligensi yang dipunyai manusia yaitu inteligensi linguistik, matematis-logis, ruang-visual, kinestetik-badani, musikal, interpersonal, intrapersonal, lingkungan, dan eksistensial. Inteligensi linguistik adalah kemampuan untuk menggunakan kata-kata dan dan berbahasa secara efektif baik secara oral maupun tertulis seperti yang dipunyai para pencipta puisi, editor, jurnalis, dan pemain sandiwara. Inteligensi matematis-logis lebih berkaitan dengan penggunaan bilangan dan logika secara efektif seperti dipunyai seorang matematikus, santis, programer, dan logikus. Inteligensi ruang adalah kemampuan untuk menangkap dunia ruang-visual secara tepat seperti dipunyai para pemburu, arsitek, dan dekorator. Inteligensi kinestetik-badani adalah keahlian menggunakan tubuh untuk mengekspresikan gagasan dan perasaan seperti pada aktor, atletik, penari, pemahat, dan ahli bedah. Inteligensi musikal adalah kemampuan untuk mengembangkan serta mengekspresikan bentuk-bentuk musik dan suara. Inteligensi interpersonal adalah kemampuan untuk menangkap dan membuat oembedaan dalam perasaan, intensi, motivasi, dan perasaan akan orang lain. Inteligensi intrapersonal adalah pengetahuan akan diri sendiri dan kemampuan untuk bertindak secara adaptif berdasarkan pengenalan diri. Inteligensi lingkungan adalah kemampuan yang berkaitan dengan pemahaman flora dan fauna, lingkungan hidup. Inteligensi eksistensial adalah kemampuan yang berkaitan dengan keberadaan manusia.

Menurut Gardner, dalam diri seorang terdapat kesembilan inteligensi tersebut.  Ada inteligensi yang lebih menonjol dan tidak menonjol. Inteligensi yang tidak menonjol dapat dikembangkan agar lebih optimal, salah satunya melalui pendidikan di sekolah.

Dampak Multiple Intelligences bagi Siswa yang Belajar
Menurut  Gardner, siswa lebih mudah memahami suatu pelajaran jika bahan pelajaran disajikan sesuai dengan kecenderungan inteligensi yang dimilikinya. Untuk itu, siswa akan sangat terbantu jika mereka memahami kecenderungan inteligensinya . Selanjutnya mereka dibantu untuk menggunakan cara belajar yang cocok.
Beberapa metode untuk mengerti inteligensi siswa, antara lain dengan cara : 1) tes intelidensi ganda; 2) mengamati reaksi siswa waktu guru mengajar dengan berbagai inteligensi ganda, 3) mengamati gerak dan aktivitas siswa di luar kelas; 4) nilai rapor dan portofolio kegiatan siswa.
Dengan berbagai perbedaan inteligensi siswa, maka sangat penting bagi guru untuk memberikan kebebasan siswanya belajar fisika dengan berbagai cara. Misalnya metode problem solving dalam fisika tidak cocok untuk beberapa inteligensi.

Dampak bagi Guru yang Mengajar
Dalam risetnya, Gardner menemukan bahwa guru kebanyakan lebih suka mengajar dengan metode yang sesuai dengan kecenderungan inteligensinya. Guru yang inteligensi matematis-logisnya bagus akan mengajar secara sistematis, rasional, dan logis. Berbeda dengan guru yang  kecenderungan inteligensi interpersonalnya menonjol,  akan menyukai pendekatan personal.
Jika menggunakan metode yang tidak cocok, kemungkinan bahan yang diajarkan sulit dicerna siswa, bahkan dianggap sebagai guru yang tidak disukai. Untuk itu guru perlu mengembangkan berbagai macam inteligensinya agar dapat mengajar dengan berbagai metode sesuai dengan inteligensi siswa-siswanya.

Dampak bagi Pengaturan Kelas/Sekolah
Suatu kelas yang menyesuaikan berbagai inteligensi mempunyai pengaturan yang dinamis, tidak tertata meja lurus dan guru di depan. Bila menggunakan model permainan, ruang kelas pun harus ditata ulang. Saat inteligensi musikal ingin ditonjolkan, maka ruang kelas pun harus ditata agar siswa lebih leluasa. Sesekali juga harus dibawa ke luar, agar kecerdasan lingkungan siswa lebih terasah.
Kurikulum pun disusun  kembali, bukan dengan model indoktrinasi. Siswa diberi kesempatan belajar dengan gaya belajar yang paling tepat. Sehingga mereka bisa menikmati pelajaran dengan senang, yang berakibat langsung dengan meningkatnya motivasi belajar mereka.

Kesimpulan
- Setiap siswa memiliki kecenderungan inteligensi/kecerdasan yang berbeda-beda
- Tugas guru mengetahui cara belajar siswa yang tepat sesuai dengan kecenderungan belajar yang dimiliki siswa

Sumber Bacaan
Suparno, Paul. 2004. Teori Inteligensi Ganda dan Aplikasinya di Sekolah. Yogyakarta : Kanisius
Suparno, Paul. 2007. Metodologi Pembelajaran Fisika Konstruktivistik dan Menyenangkan. Yogyakarta : Sanata Darma

Sabtu, 31 Maret 2012

Filsafat Konstruktivisme dalam Pendidikan

Filsafat Konstruktivisme dalam Pendidikan

Filsafat konstruktivisme, dewasa ini, mempunyai pengaruh yang besar dalam dunia pendidikan. Dengan berlandaskan pada teori ini, model pembelajaran sangat berbeda dengan model pembelajaran klasik. Tulisan ini merupakan ringkasan dari buku Metodologi Pembelajaran Fisika : Konstruktivistik dan Menyenangkan yang ditulis oleh Paul Suparno.
Filsafat konstruktivisme adalah filsafat yang mempelajari hakikat pengetahuan dan  bagaimana pengetahuan itu terjadi. Pengetahuan adalah bentukan (konstruksi) bagi yang menekuninya. Pengetahuan bukanlah sesuatu yang sudah jadi. Pengetahuan adalah proses menjadi lebih tahu, lebih lengkap dan lebih sempurna. Misalnya pengetahuan tentang listrik. Di SD dikenalkan bahwa lampu menyala karena ada arus yang mengalir. Di SMP dikenalkan berbagai rangkaian listrik, di SMA diperdalam lagi sampai rangkaian yang lebih kompleks dan selanjutnya terus diperdalam di perguruan tinggi.
Secara prinsipal, para konstruktivis menolak kemungkinan transfer pengetahuan dari seseorang kepada yang lain. Pengetahuan bukanlah sesuatu yang dapat dipindahkan begitu saja dari guru ke siswa. Pengetahuan dikonstruksikan sendiri atau paling sedikit diinterpretasikan sendiri oleh siswa dan tidak begitu saja dipindahkan.

Konstruktivisme Psikologis Personal (Piaget)
Konstruktivisme psikologis diawali oleh Piaget yang meneliti bagaimana seorang anak membangun pengetahuan kognitifnya. Seorang anak  mula-mula membentuk skema, mengembangkan skema, dan mengubah skema. Ia lebih menekankan bagaimana si individu secara sendiri mengkonstruksi pengetahuan dari interaksinya dengan pengalaman dan objek yang dihadapi. Pendekatan Piaget ini bersifat personal dan individual.
Dalam kasus belajar fisika, seorang anak diberi kebebasan untuk mempelajari sendiri dan kemajuannya dapat sendiri-sendiri. Tekanannya adalah siswa hanya dapat mengerti fisika bila ia sendiri belajar dan dengan demikian membangun pengetahuannya sendiri.

Sosiokulturalisme (Vygotsky)
Berbeda dengan Piaget, Vygotsky menekankan pentingnya interaksi sosial dengan orang lain terlebih yang memiliki pengetahuan lebih baik  maupun sistem/lingkungan yang telah berkembang dengan baik. Misalnya seorang yang belajar fisika dipertemukan dengan ahli fisika yang dapat bercerita tentang pengalaman, pemikiran maupun penemuan-penemuannya. Dalam keterlibatan ini siswa tertantang untuk mengkonstruksi pengetahuanny sesuai dengan konstruksi para ahli.
Menurut sosiokulturalisme, kegiatan seseorang dalam memahami sesuatu dipengaruhi oleh partisipasinya dalam praktek-praktek sosial dan kultural yang ada, seperti masyarakat, sekolah, teman dan lain-lain. Misalnya keadaan masyarakat yang mendukung pendidikan dapat membantu anak-anak berkembang lebih baik. Belajar berkelompok dapat membuat semakin yakin dengan pengetahuan yang dimilikinya. Mereka dapat saling mengoreksi maupun melengkapi gagasan atau pendapat teman.
Konstruktivisme bersifat kontektual.  Jika konteksnya berbeda, maka siswa memahami konsepnya secara berbeda juga. Misalnya, seseorang anak menemukan bahwa titik didih air pada tekanan udara tinggi akan berbeda  ketika tekanan udaranya rendah.

Dampak Konstruktivisme Bagi Siswa yang Belajar
Belajar adalah proses yang aktif. Siswa sendiri yang membentuk pengetahuannya. Dalam proses belajar ini, siswa menyesuaikan konsep dan ide-ide yang baru dengan kerangka berpikir yang mereka miliki. Siswa sendiri yang bertanggung jawab terhadap hasil belajar mereka.
Belajar bukan sekedar mengumpulkan fakta. Di dalamnya dipenuhi dengan proses berpikir, dari membuat hipotesa, memecahkan persoalan, berefleksi dan seterusnya sampai terbentuk pengetahuan yang baru.
Dalam mempelajari suatu konsep, misalnya gerak dalam fisika, siswa sudah membawa konsep-konsep fisika sebelum mengikuti pelajaran formal di sekolah.  Konsep-konsep yang mereka bawa sering tidak tepat dan tidak sesuai. Itulah yang disebut  miskonsepsi.  Pengertian awal inilah yang perlu dikembangkan dan diluruskan dalam belajar di sekolah.
Oleh karena pengetahuan dibentuk baik secara individual maupun sosial, maka belajar kelompok dapat dibentuk untuk mematangkan konstruksinya. Bagi siswa yang mempunyai gagasan salah, mereka dapat mengubahnya. Sedangkan bagi siswa yang mempunyai gagasan benar, dapat menjadi lebih yakin  dengan pengetahuannya.

Dampak Konstruksivisme Bagi Guru Fisika
Mengajar bukanlah memindahkan pengetahuan dari otak guru ke otak siswa. Mengajar lebih merupakan proses membantu siswa sendiri membangun pengetahuannya. Peran guru bukan mentransfer ilmu, melainkan sebagai mediator atau fasilitator yang membantu siswa dapat mengkonstruksi pengetahuan mereka secara cepat dan efektif.

Secara ringkas pendekatan mengajar konstruktivis dapat diungkapkan dalam beberapa sikap dan praktik sebagai berikut.
Sebelum guru mengajar
-    Guru menyiapkan bahan yang mau diajarkan dengan seksama
-    Guru mempersiapkan alat-alat peraga/praktikum yang akan digunakan
-    Guru mempersiapkan pertanyaan dan arahan untuk merangsang siswa aktif belajar
-    Guru sebaiknya mendalami keadaan siswa, mengerti kelemahan dan kelebihan siswa
-    Guru perlu mempelajari pengetahuan awal siswa

Selama proses pembelajaran
-    Siswa dibantu aktif belajar, menekuni bahan
-    Siswa dipacu bertanya
-    Guru menggunakan metode ilmiah dalam proses penemuan sehingga siswa merasa menemukan sendiri pengetahuan mereka.
-    Pikiran dan gagasan siswa diikuti
-    Guru perlu menggunakan bervariasi metode pembelajaran
-    Siswa diajak melakukan kunjungan ke tempat pengembangan IPA seperti museum sains, laboratorium  tenaga atom, dll
-    Guru perlu mengadakan praktikum terpimpin maupun bebas terlebih untuk topik yang sulit sehingga siswa lebih mengerti
-    Siswa yang berpendapat salah atau lain tidak dicerca, sebaliknya pendapat mereka diperhatikan
-    Jawaban alternatif dari siswa diterima atau dibahas
-    Kesalahan konsep siswa ditunjukkan dengan arif dan bukan dicela melulu
-    Pikiran siswa yang tidak tepat ditantang dengan menyediakan  data anomali yang berlawanan dengan gagasan siswa
-    Siswa diberi waktu berpikir dan merumuskan gagasan mereka, tanpa harus dikejar-kejar waktu
-    Siswa diberi kesempatan mengungkapkan pikirannya sehingga guru mengerti apakah gagasan mereka itu tepat atau tidak
-    Siswa diberi kesempatan untuk mencari pendekatan dan caranya sendiri dalam belajar dan menemukan sesuatu
-    Guru perlu mengadakan evaluasi yang terus menerus dan menyertakan proses belajar dalam evaluasi itu

Sesudah proses pembelajaran
-    Guru memberikan pekerjaan rumah, mengumpulkannya serta mengoreksinya
-    Guru perlu sering memberikan tugas lain untuk pendalaman materi
-    Tes yang membuat siswa berpikir, bukan hapalan

Sikap yang perlu dipunyai guru
-    Siswa dianggap bukan tabula rasa, tetapi sebagai subyek yang sudah tahu sesuatu
-    Model kelas : siswa aktif, guru menyertai
-    Bila ditanya siswa dan tidak dapat menjawab, guru tidak usah marah dan mencerca siswa. Lebih baik mengakuinya dan mencba mencari bersama
-    Menyediakan ruang tanya jawab dan diskusi
-    Guru dan siswa saling belajar
-    Dalam mengajar yang penting bukan bahan selesai, tetapi siswa belajar untuk belajar sendiri
-    Guru perlu memberikan ruang untuk boleh salah bagi siswanya
-    Hubungan guru-siswa dialogal, saling dialog, dan kerja sama dalam mendalami pengetahuan
-    Guru mengembangkan pengetahuan yang luas dan mendalam
-    Guru mengerti konteks bahan yang mau diajarkan dehingga dapat menjelaskan secara kontekstual

Kesimpulan
- Pengetahuan bukan ditransfer begitu saja tetapi dikonstruk sendiri
- Peran guru adalah menciptakan kondisi agar proses konstruksi pengetahuan siswanya berjalan dengan baik


Bacaan Rujukan
Suparno, Paul. 1997. Filsafat Konstruktivisme dalam Pendidikan. Yogyakarta : Kanisius
Suparno, Paul. 2007. Metodologi Pembelajaran Fisika Konstruktivistik dan Menyenangkan. Yogyakarta : Sanata Darma

Senin, 19 Desember 2011

Kisi-kisi Ujian Nasional 2012

Belajar Tekun
Kisi-kisi ujian nasional telah diluncurkan oleh BSNP pada tanggal 15 Desember 2011 dengan harapan agar para guru dan siswa dapat lebih dini fokus pada materi yang akan diujikan dalam Ujian Nasional 2012. Bagi siswa agar mereka menjadi lebih semangat belajar sehingga mendapatkan hasil yang maksimal. Bagi guru agar bisa menghantarkan keberhasilan peserta didiknya.





Download kisi-kisi ujian nasional untuk SMP/MTs/SMPLB/SMA/MA/SMALB/SMK di sini
atau di sini

Jumat, 02 Desember 2011

Metodologi Pembelajaran Fisika : Konstruktivitik dan Menyenangkan

Tulisan ini merupakan ringkasan dari buku karangan Paul Suparno yang berjudul Metodologi Pembelajaran Fisika : Konstruktivistik dan Menyenangkan.

PENDAHULUAN
Kritik terhadap guru fisika baru adalah mereka kurang kompeten sebagai guru, yaitu (1) kurang menguasai bahan fisika, dan (2) kurang mampu mengajarkan bahan itu kepada siswa dengan tepat, menarik, dan efektif.
Unsur yang terpenting dalam pembelajaran yang baik adalah (1) siswa yang belajar, (2) guru yang mengajar, (3) bahan pelajaran, dan (4) hubungan antara guru dan siswa.

Mempersiapkan diri menjadi guru fisika yang profesional
1.    Penguasaan bahan fisika
2.    Mengerti tujuan pengajaran fisika
3.    Guru dapat mengorganisasi pengajaran fisika
4.    Mengerti situasi siswa
5.    Guru dapat berkomunikasi dengan siswa
6.    Guru menguasai berbagai metode

LANDASAN  TEORI PEMBELAJARAN FISIKA
1.    Filsafat konstruktivisme
2.    Teori intelegensi majemuk atau multiple intelligences
3.    Teori perkembangan kognitif Piaget
4.    Doing sciences
5.    Less is more
6.    Guru fisika sebagai pengajar dan pendidik yang demokratis
7.    Perkembangan teknologi informasi / komputer

BEBERAPA METODE PEMBELAJARAN FISIKA
Metode pembelajaran yang dipilih dipengaruhi oleh filsafat konstruktivisme, teori kecerdasan majemuk, tingkat perkembangan kognitif seseorang, relasi guru dan siswa yang lebih dialogis. Metode diurutkan  yang sangat kontruktivis sampai yang cukup konstruktivis. Metode itu antara lain adalah :
1.    Inquiry (penyelidikan)
2.    Dicovery
3.    Eksperimen atau laboratorium
4.    Simulasi – role play
5.    Fisika aneh – Fun – Misteri
6.    Permainan – games
7.    Model anomaly
8.    Model Galileo
9.    Problem solving
10.   Problem composing
11.   Model POE
12.   Kuis
13.   Simulasi komputer
14.   Internet – e-learning
15.   Video, CDROM, film
16.   Karya wisata (field trip)
17.   Pasar malam – pasar raya
18.   Lingkungan hidup
19.   Hand-on activities
20.   Model proyek
21.   Diskusi kelompok
22.   Debat
23.   Cooperative learning (belajar bersama)
24.   Peer tutoring
25.   Demontrasi
26.   Peta konsep
27.   Analogi – bridging analogi
28.   Permainan kartu
29.   Pembelajaran reflektif
30.   Ceramah siswa aktif
31.   Kegiatan penunjang lain
a.    Seminar fisika
b.    Pameran karya fisika
c.    Lomba fisika – olimpiade fisika
d.    Majalah dinding – jurnal fisika

Jumat, 21 Oktober 2011

Miskonsepsi dalam Fisika

http://paulparno.blogspot.com
Pengantar
Seorang siswa SD ditanya oleh guru IPA-nya. "Manakah yang benar? Matahari mengitari bumi atau bumi yang mengitari matahari." Dengan tegas tegas anak tersebut menjawab bahwa matahari yang mengelilingi bumi dan Matahari terbit dari sebelah timur dan tenggelam di sebelah barat. Padahal secara ilmiah, konsep anak tersebut tidak benar. Bumilah yang mengitari matahari dan bukan sebaliknya.

Seorang siswa SMP saat ditanya," Lihatlah sebuah buku yang diam. Apakah ada gaya yang bekerja padanya?" Spontan anak tersebut menjawab bahwa pada  buku tersebut tidak ada gaya yang bekerja, karena benda diam. Dalam pengertian anak tersebut gaya selalu menyebabkan suatu benda bergerak. Tentunya pendapat tersebut salah, karena pada benda yang diam pun ada gaya yang bekerja gaya normal dan gaya gesekan.


Dari dua contoh di atas, terlihat bahwa seorang anak sebelum mendapatkan pelajaran formal di sekolah sudah mempunyai gambaran awal. Konsep awal yang dibawanya ini ada yang tidak sesuai atau bertentangan dan ada pula yang hanya membutuhkan penyempurnaan. Konsep awal yang tidak sesuai dengan konsep ilmiah disebut dengan miskonsepsi atau salah konsep.

Tidak jarang juga di antara para siswa menggunakan konsep ganda. Misalnya, jika ditanya oleh gurunya ia mengatakan satuan berat adalah newton, tetapi di keseharian dia mengatakan satuan berat adalah kilogram.

Pengertian Miskonsepsi
Suparno (2005) menjelaskan berbagai pendapat mengenai pengertian miskonsepsi. Bentuk miskonsepsi dapat berupa konsep awal, kesalahan, hubungan yang tidak benar antara konsep-konsep, gagasan intuitif atau pandangan yang naif. Novak (1984), mendefinisikan miskonsepsi sebagai suatu interpretasi konsep-konsep dalam pernyataan yang tidak dapat diterima. Brown (1989; 1992), menjelaskan miskonsepsi sebagai suatu pandangan yang naif dan mendefinisikannya sebagai suatu gagasan yang tidak sesuai dengan pengertian ilmiah yang sekarang diterima. Feldsine (1987), menenukan miskonsepsi sebagai suatu kesalahan atau hubungan yang tidak benar antara konsep-konsep. Hanya Fowler (1987), menjelaskan dengan lebih rinci arti miskonsepsi. Ia memandang miskonsepsi sebagai pengertian yang tidak akurat akan konsep, penggunaaan konsep yang salah, klasifikasi contoh-contoh yang salah, kekacauan konsep-konsep yang berbeda, dan hubungan hirarkis konsep-konsep yang tidak benar.

Miskonsepsi dalam Fisika
Berbagai miskonsepsi dalam Fisika ada dalam berbagai sub bidang fisika.

http://arsyadriyadi.blogspot.com/2011/09/miskonsepsi-dan-perubahan-konsep.html
http://arsyadriyadi.blogspot.com/2011/09/miskonsepsi-dan-perubahan-konsep_26.html
http://arsyadriyadi.blogspot.com/2011/10/miskonsepsi-dan-perubahan-konsep.html

Penyebab Miskonsepsi
1. Siswa/Mahasiswa
Miskonsepsi dalam bidang fisika paling banyak berasal dari siswa sendiri. Miskonsepsi yang berasal dari siswa dapat dikelompokkan dalam beberapa hal, antara lain :
- Prakonsepsi atau konsep awal siswa
- Pemikiran asosiatif
- Pemikiran humanistik
- Reasoning yang tidak lengkap/salah
- Intuisi yang salah
- Tahap perkembangan kognitif siswa
- Kemampuan siswa
- Minat belajar siswa

2. Guru/Pengajar

3. Buku Teks
- Buku teks
- Buku fiksi sains (Science Fiction)
- Kartun (Cartoon)

4. Konteks
- Pengalaman
- Bahasa sehari-hari
- Teman lain
- Keyakinan dan ajaran agama

5. Metode Mengajar


Sumber : 
Miskonsepsi dan Perubahan Konsep Pendidikan Fisika" karangan Paul Suparno, dosen pendidikan fisika dan rektor USD Yogyakarta (tahun 2005)

Sabtu, 15 Oktober 2011

Memburu E-Learning

Perjalanan mulai mengejar ilmu berbasis e-learning diawali dengan keikutsertaan saya mengikuti lomba penulisan karya tulis ilmiah (KTI) yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Purbalingga, sekitar bulan mei 2011. Judul yang saya ambil, yaitu "Perancangan E-Learning Virtual Classroom Menggunakan Multimedia Pembelajaran Interaktif Berbasis Flash". Artikel bisa dilihat atau download di sini.

Selanjutnya, saya mengikuti lomba Multimedia Pembelajaran Interaktif (MPI) berjudul "Hukum Newton tentang Gerak" menggunakan program macromedia flash 8. Lomba ini juga diselenggarakan oleh BPTIKP Jawa Tengah pada bulan Agustus. Presentasi dilaksanakan tanggal 15 - 16 Agustus 2011, bulan puasa saat itu.

Selepas lomba MPI, saya mengikuti lomba Blog Guru yang juga diselenggarakan oleh BPTIKP Jawa Tengah. Alamat blognya : http://arsyadriyadi.blogspot.com, yang bisa mendapat peringkat 9. Bagi saya ini hal yang luar biasa. Pertama, baru mulai belajar blog. Yang kedua blog ini masih sangat muda.

Bulan berikutnya, tanggal 14 - 16 Oktober 2011 dapat mengikuti Training of Trainer (TOT) "Pemanfaatan TIK untuk Pembelajaran."
Materi pokok :
1. Memanfaatkan FOSS untuk Pembelajaran
2. Multimedia Pembelajaran Interaktif (MPI) dan Desain Komunikasi Visual (DKV)
3. Aplikasi Portal Belajar

Dan sampai sekarang..pencarian-pencarian e-learning masih terus berjalan...Semangat jangan sampai pudar.

Selasa, 11 Oktober 2011

Miskonsepsi dan Perubahan Konsep Pendidikan Fisika (Bagian 3)

Gelombang dan Optik
Beberapa siswa mempunyai miskonsepsi bahwa suara berjalan paling cepat melalui ruang hampa di mana tidak ada udara.

Mohapatra (1998), menemukan bahwa banyak siswa di India mempunyai miskonsepsi mengenai hukum refleksi cahaya. Mereka berpikir bahwa kesamaan antara sudut datang dan sudut reflesi hanya terjadi pada cermin datar.

Banyak siswa yang beranggapan bahwa cahaya dapat dipantulkan dari permukaan cermin yang halus, tidak dapat dipantulkan dari permukaan yang tidak halus.

Beberapa siswa mempunyai  miskonsepsi tentang perjalanan cahaya (V.D. Berg). Dua kesalahan yang diungkapkan, yaitu :
1. Lilin yang tidak terang tidak memancarkan cahaya pada siang hari, hanya pada malam hari, Lilin redup hanya memancarkan cahaya pada malam hari.
2. Cahaya yang lebih terang akan berjalan lebih cepat, dan hambatan seperti lensa, filter dan kaca memperlambat perjalanan cahaya itu.

Beberapa siswa SMP berpendapat bahwa cahaya yang berjalan mengenai benda yang transparan akan diteruskan tanpa mengalami perubahan arah.

Beberapa siswa SMP dan SMA mempunyai miskonsepsi akan terjadinya pembiasan pada lensa. Menurut mereka, sinar datang pada lensa cembung atau cekung, tidak dibiaskan pada permukaan lensa, tetapi pada tengah lensa. Dengan kata lain, permukaan lensa dan ketebalan lensa tidak mempengaruhi proses pembiasan cahaya. Hal ini tidak benar, karena cahaya itu dibelokkan dan dibiaskan justru pada permukaan lensa di mana ada perbedaan indeks bias dari dua medium, yaitu udara dan kaca, atau kaca dan udara.

Senin, 26 September 2011

Miskonsepsi dan Perubahan Konsep Pendidikan Fisika (Bagian 2)

Pada bagian pertama dikemukakan miskonsepsi dalam bidang mekanika. Pada bagian kedua akan dikemukakan miskonsepsi dalam bidang panas dan termodinamika.
Bidang Panas dan Termodinamika
Banyak siswa yang beranggapan bahwa suatu benda yang mempunyai suhu lebih tinggi akan selalu membutuhkan kalor/panas yang besar pula. Anggapan ini keliru, karena besarnya kalor yang dibutuhkan suatu benda, juga tergantung pada massa dan kapasitas kalor masing-masing benda.
Beberapa siswa beranggapan bahwa bila panas diberikan pada air yang mendidih dengan cepat, maka suhu air yang mendidih itu akan bertambah. Padahal yang benar adalah suhu tetap tidak naik sampai semuanya menjadi gas. Dengan kata lain, saat proses perubahan wujud, suhu tetap meski panas ditambah.
Siswa SD banyak yang kebingungan, pada saat mendidih kok suhunya tetap. Mereka menganggap percobaan yang dilakukan ada kesalahan.
Beberapa siswa juga menyakini bahwa suhu es tidak dapat berubah.  Mereka berpendapat, bahwa suhu es akan selalu 00C.
.

Sabtu, 24 September 2011

Miskonsepsi dan Perubahan Konsep Pendidikan Fisika (Bagian 1)

Catatan ini saya ambil dari buku "Miskonsepsi dan Perubahan Konsep Pendidikan Fisika" karangan Paul Suparno, dosen pendidikan fisika dan rektor USD Yogyakarta (tahun 2005).

1. Gerak
Kebanyakan siswa secara spontan mengatakan bahwa sebuah benda yang massanya lebih besar jatuh lebih cepat daripada benda yang ringan pada peristiwa gerak jatuh bebas. Padahal, menurut prinsip fisika, kedua benda tersebut akan jatuh dengan percepatan yang sama dan waktu yang ditempuh hingga menyentuh lantai pun sama (bila tidak ada unsur lain yang mempengaruhi).


2. Vektor
Banyak siswa yang menjumlahkn vektor seperti menjumlahkan bilangan biasa tanpa memperhatikan sudut dan arahnya.

3. Gaya, Massa dan, Berat
Banyak siswa yang menganggap berat sama dengan massa, sehingga menuliskan satuan berat pun dengan kilogram.
Siswa juga beranggapan bahwa setiap gaya akan menyebabkan benda bergerak. Akibatnya, mereka berpikiran bahwa jika tidak ada gerak sama sekali maka tidak ada gaya yang bekerja.
Misalnya, seseorang yang mendorong lemari yang sangat berat sehingga lemari tidak bergeser. Apakah berarti tidak ada gaya yang bekerja padanya?

4. Hukum Newton
Banyak siswa beranggapan bahwa, gaya aksi dan reaksi dalam hukum III Newton bekerja pada benda yang sama.
Banyak siswa yang memahami bahwa suatu benda yang diam di atas meja, tidak ada gaya yang bekerja pada benda tersebut.
Banyak siswa yang berpendapat bahwa besarnya gaya gesekan hanya dipengaruhi oleh kekasaran permukaan itu. Tetapi sebenarnya ada unsur lain yang mempengaruhi, yaitu massa benda itu sendiri dan gaya yang bekerja pada benda tersebut.

5. Kerja, Kekekalan Energi, dan Momentum
Banyak siswa yang berpendapat bahwa jika suatu benda diberi gaya, tetapi benda tersebut tetap diam dikatakan pada benda tersebut terjadi kerja (usaha).
Siswa sulit memahami mengapa jika seseorang mendorong mobil sekuat tenaga, bahkan sampai berkeringat, ia tidak melakukan kerja. Mereka berpikir, jika seseorang melakukan aktifitas dengan suatu energi, ia membuat suatu kerja.
Siswa juga sulit memahami bahwa pada benda yang diam tidak mempunyai energi. Padahal dalam fisika, ada energi potensial yang terjadi pada benda karena kedudukannya.
Banyak siswa SMA menganggap bahwa jika ada dua mobil yang bertumbukan, kedua mobil akan berhenti karena kecepatan totalnya menjadi nol.

6. Mekanika Fluida
Banyak siswa beranggapan bahwa suatu benda tenggelam di air karena benda lebih berat daripada air.

Senin, 12 September 2011

Menumbuhkan Minat dan Bakat Berlandaskan Teori Multiple Intelligences

Pengantar
Ada suatu cerita dari dunia binatang. Para binatang besar ingin membuat sekolah untuk para binatang kecil. Di sekolah itu akan diajarkan mata pelajaran memanjat, terbang, berlari, berenang, dan menggali.
Awalnya sekolah tersebut berjalan dengan baik, seluruh pengajar dan muridnya menikmati pelajaran dengan penuh keceriaan. Suatu ketika terjadi hal-hal yang tidak diduga sebelumnya. Kelinci yang sangat jago berlari hampir tenggelam ketika mengikuti pelajaran berenang. Dengan kesibukannya belajar berenang, kelinci tersebut tidak dapat berlari secepat sebelumnya. Elang, yang sangat pandai terbang tidak mampu menjalankan pelajaran menggali. Les perbaikan menggali yang diberikan malah menyebabkan elang melupakan cara terbangnya.
Kesulitan-kesulitan terus melanda binatang-binatang lain, seperti bebek, burung pipit, bunglon, ular dan binatang kecil lainnya. Para binatang kecil itu tidak mempunyai kesempatan lagi untuk berprestasi dalam bidang keahlian mereka masing-masing karena dipaksa melakukan hal-hal yang tidak menghargai sifat alami mereka.
(Armstrong, 2003)

Pengertian
Minat : Kecenderungan hati yang tinggi terhadap sesuatu, gairah, keinginan.
Bakat : kepandaian, sifat, dan pembawaan yang dibawah sejak akhir.
Teori Multiple Intelligences/Kecerdasan Majemuk : teori yang diajukan oleh Howard Gardner. Kecerdasan ini meliputi kecerdasan linguistik, kecerdasasan matematis-logis, kecerdasan spasial, kecerdasan kinestetis-jasmani, kecerdasasan musikal, kecerdasan interpersonal, kecerdasan naturalis, dan kecerdasan eksitensial.

Teori Kecerdasan Majemuk
  1. Kecerdasan Linguistik : kepekaan pada bunyi struktur, makna, fungsi kata, dan tubuh. Ditemukan pada para penulis dan orator.
  2. Kecerdasan Matematis-Logis : kepekaan dalam mencerna, pola-pola logis, maupun numeris, dan kemampun mengolah alur pemikiran yang panjang. Ditemukan pada para ilmuwan dan ahli matematika.
  3. Kecerdasan Spasial : kepekaaan mempersepsi (merasakan) dunia visual secara akurat dan mentransformasi persepsi awal. Ditemukan pada seniman dan para arsitek.
  4. Kecerdasan Kinestetis - Jasmani : kemampuan mengontrol gerak tubuh dan kemahiran mengolah obyek. Ditemukan pada para penari, atlet dan para pematung.
  5. Kecerdasan Musikal : kemampuan menciptakan dan mengapresiasi irama, pola titi nada, dan apresiasi bentuk-bentuk ekspresi musikal. Ditemukan pada komposer dan penyanyi.
  6. Kecerdasan Interpersonal : kemampuan mencerna dan merespon secara tepat suasana hati, temperamen, motivasi, dan keinginan orang lain. Ditemukan pada para konselor dan pemimpin politik.
  7. Kecerdasan Intrapersonal : kemampuan memahami diri sendiri dan kemampuan memahami emosi, serta pengetahuan tentang kekuatan dan kelemahan diri. Ditemukan pada para psikoterapis dan pemimpin keagamaan.
  8. Kecerdasan Naturalis : keahlian membedakan anggota-anggota suatu spesies, mengenali eksistensi spesies lain, dan memetakan hubungan antara beberapa spesies. Ditemukan pada para peneliti alam, ahli biologi, dan aktitivis binatang.
Minat, Bakat dan Kegiatan Ekstrakurikuler
Seorang siswa dalam mengikuti kegiatan ekstrakurikuker hendaknya menyesuaikan pada  minat dan bakat yang dimilikinya. Apa pun alasannya, kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler yang akan diikutinya jangan sampai menambah "beban baru". Bukan karena ikut-ikutan teman maupun desakan dari orang tua. Dengan mengikuti kegiatan ekstrakurikuler diharapkan setiap siswa dapat menjadi pribadi yang sportif, bersaing sehat, memiliki disiplin tinggi, menumbuhkan kepercayaan diri, dan menumbuhkan kemampuan bersosialisasi.
Contoh kegiatan ekstrakurikuler yang bisa diikuti :
  1. Majalah dinding (kecerdasan linguistik)
  2. Komputer (kecerdasan matematis-logis)
  3. KIR (kecerdasan matematis-logis dan naturalis)
  4. Seni rupa (kecerdasan spasial)
  5. Bola volley, sepak bola, basket dll (kecerdasan kinestetis-jasmani)
  6. Seni musik (kecerdasan musikal)
  7. Pramuka (kecerdasan interpersonal dan naturalis)
  8. PMR (kecerdasan interpersonal dan naturalis)
Referensi :
Armstrong, Thomas. 2003. Sekolah Para Juara : Menerapkan Multiple Intelligences di Dunia Pendidikan (terjemahan). Bandung : Kaifa
Armstrong, Thomas. 2007. 7 Kinds of Smart (terjemahan). Jakarta : Gramedia Pustaka Utama
Gardner, Howard. 2003. Kecerdasan Majemuk (terjemahan). Interaksara