Jumat, 11 Februari 2011

GURU MAN PURWOKERTO 1 RAIH PENGHARGAAN NASIONAL

Adalah Iksan Taufik Hidayanto, S.Pd, guru fisika di MAN Purwokerto 1 meraih penghargaan Pendidikan Sains Tahun 2010 tingkat nasional. Dia meraih Science Education Award (SEA) 2010 yang diselenggarakan oleh Indonesia Toray Science Foundation (ITSF). Sebuah yayasan yang didanai oleh Toray Industries, Inc. Jepang dan dikenal oleh pejabat Indonesia yang berwenang sebagai bentuk organisasi dengan tujuan untuk memajukan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi di Indonesia. Diantara kegiatan yang diadakan adalah memberikan penghargaan Pendidikan Sains bagi guru sekolah menengah atas yang kreatif dan inovatif dalam pembelajaran IPA.

Penyerahan penghargaan berlangsung di Hotel Shangri-Laa Jakarta, 10 Pebruari 2011. Acara ini dihadiri oleh Duta Besar Jepang untuk Indonesia Mr. Kojiro Shiojiri, Dirjen Dikti Kemendiknas Djoko Santoso (mewakili Menteri Pendidikan Nasional) dan Deputi Bidang Sumber Daya Iptek Kemenristek Freddy Permana Zen (mewakili Menteri Riset dan Teknologi). Semula ada 256 guru yang mengirimkan inovasi pendidikan ke ITSF. Dari 256 inovasi yang memenuhi kriteria sejumlah 110 nominasi. Guru sains yang dinominasikan telah merubah pelaksanaan pengajarannya dari bentuk “guru mengajar” ke bentuk “membantu siswa-siswa untuk belajar”. Setelah mempelajari satu persatu, berdasarkan kriteria yang digunakan yaitu unsur inovasi, relevansinya terhadap lingkungan sekolah tempat kerja, penggunaan komunikasi yang efektif bagi pembelajaran siswa maka komite seleksi yaitu Prof. Dr. Beni Suprapto, Prof. Dr. Muzayanah Sutikno dan Herwindo Haribowo, P.hD, menetapkan 15 calon untuk diwawancarai dan melakukan presentasi di Jakarta pada tanggal 24 dan 25 November 2010. Dari 15 calon tersebuat akhirnya hanya 9 guru SMA/SMK/MA yang menerima penghargaan dari ITSF. Salah satunya adalah Iksan Taufik H, S.Pd. The Winner Science Education Award 2010

Iksan melakukan inovasi berupa pembuatan alat peraga gaya Lorentz dan motor listrik dalam proses pembelajaran fisika. Alat peraga yang sederhana, murah dan praktis ini pembuatannya memanfaatkan bahan-bahan bekas yang sudah tidak dipakai lagi yang ada disekitar kita seperti kayu, paku, kabel dan kawat tembaga. “Dengan memanfaatkan alat peraga ini, siswa tidak hanya mendengar uraian guru tetapi juga melakukan aktivitas lain seperti mengamati, menganalisis dan menyimpulkan hasil pengamatan sehingga siswa lebih memahami konsepnya dan pengetahuan tersebut akan tersimpan lebih lama dalam ingatannya” kata Iksan. Dia mengaku bangga dengan prestasi yang diraihnya

"Semoga ini menjadi “virus” positif yang cepat menyebar kepada guru madrasah lain untuk berprestasi dan sekaligus mengangkat prestasi siswa madrasah" harap Kepala MAN Purwokerto 1, Drs. H. Khamid Alwi, M.Ag

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar