Rabu, 25 Mei 2011

Fisikawan Gampang Dibajak, Pemerintah Kurang Perhatian

Sumber: http://www.fisika.lipi.go.id/

Tak bisa dipungkiri, saat ini fisikawan Indonesia mulai diakui Dunia. Lewat ajang kejuaraan fisika mancanegara, tak sedikit mereka tampil sebagai jawara.

Namun sayangnya, perhatian pemerintah terhadap mata pelajaran fisika maupun fisikawan berprestasi masih sangat rendah. Hal ini terbukti dari banyaknya fisikawan yang memilih bekerja di luar negeri ketimbang di Indonesia setelah memenangkan sebuah kompetisi.

Ka Sub Bidang Kerjasama Pusat Penelitian Fisika LIPI Dra. Edi Tri Astuti, M.Eng telah mengatakan ilmu fisika yang merupakan ilmu dasar seringkali tersisih dari ilmu yang membawa keuntungan ekonomis kepada masyarakat. Apalagi, penghargaan terhadap para fisikawan yang berprestasi.

"Apresiasi di sini dibandingkan dengan di luar berbeda. Apabila ada tawaran yang menggiurkan dia otomatis tak balik ke Indonesia," ungkapnya kepada www.today.co.id di sela-sela Kompetisi Fisika Atma Jaya Jakarta, Jumat (8/4/2011).

Yang lebih parah, kata Edi Tri Astuti, secara keseluruhan minat pelajar dan mahasiswa terhada mata pelajaran fisika sangat rendah sekali.

"Sebetulnya secara personal masih ada perhatian kita lihat dari lomba di luar negeri. Tapi, porsentasi secara keseluruhan dari jumlah penduduk di Indonesia sangat kurang," tandasnya.

Sementara itu, Peneliti P2 Fisika LIPI Prof Pardamean Sebayang mengatakan para fisikawan Indonesia saat ini merupakan salah satu yang terbaik di dunia. Pasalnya, dari beragam kompetisi fisika dunia, Indonesia bisa meraih juara.

"Menurut saya, siswa kita bukan hanya mampu bersaing. Tapi, juga layak menjadi leader di dunia fisika," ungkapnya di sela-sela kompetisi fisika 'Atmajaya Science Fair 2011' di Kampus Unika Atmajaya, Jakarta, kemarin.

Karena itu, untuk mewujudkan Indonesia menjadi yang terbaik di bidang fisika pemerintah perlu memberikan perhatian serius terhadap para fisikawan agar mereka mampu berkompetisi di ajang internasional.

"Mesti ada kemauan bersama, kemauan besar, Ini tantangan kita bersama, jadi harus terus dirangsang, kita punya sumber potensi cukup banyak," ujarnya.

Ia telah mengatakan dalam penyelenggara ASF 2011 yang bertajuk 'The Most Electrifiying Festival' dilakukan sebuah kompetisi yang beragam. Di antaranya cerdas cermat untuk menguji ketangkasan menjawab soal-soal fisika.

"Selain itu, ada peragaan fenomena fisika untuk menguji ketepatan dan memprediksi apa yang terjadi pada fenomena tersebut serta menjelaskan alasannya," katanya.

Fisika Tak Disukai Siswa

Fakta membuktikan, fisika merupakan salah satu mata pelajaran yang tidak disukai siswa. Banyak alasannya, salah satunya fisika susah dipahami.

Keadaan ini ironis mengingat ilmu fisika adalah salah satu ilmu yang harus dikuasai bagi mereka yang ingin kuliah di perguruan tinggi dalam bidang eksakta (bidang MIPA, kedokteran, teknik, dan ilmu komputer).

Fisika pelajaran lumayan sulit. Karena sulitnya memahami fisika itulah yang menyebabkan mereka membenci pelajaran fisika.

Walaupun penampilan fisik buku pelajaran itu sangat menarik tetapi tidak demikian halnya dengan isinya.

Guru sebagai ujung tombak, harus berani mengakui bahwa guru berperan besar dalam menjadikan pelajaran fisika itu sulit dan tidak menarik minat siswa untuk mempelajarinya. Fakta ini didukung oleh pendapat banyak siswa sekolah.

Kadang – kadang guru fisika tidak punya motivasi dan semangat untuk mengajar pelajaran fisika. Entah karena malas atau kurang menguasai materi pelajaran, sering guru tidak hadir di kelas dan kalaupun hadir tidak memberikan pelajaran sesuai dengan waktu yang tersedia.

Tapi, apapun alasan siswa tidak menyukai fisika. Tetapi fisika merupakan mata pelajaran wajib diikuti. Karenanya guru harus tetap semangat, terus berupaya agar siswa menyukai fisika, gunakan berbagai tips agar siswa menyukai fisika. Ada beberapa tip agar fisika disukai.

1. Menguasai materi. Ini salah satu kunci utama, sehebat apapun metode pembelajaran kalau gurunya tidak atau kurang menguasai materi hasilnya pasti tidak memuaskan.
2. Menyajikan materi dengan metode pembelajaran yang mudah diterima siswa dan variatif. Hal ini memerlukan kejelian guru dalam memilih metode pembelajaran yang tepat dan variatif agar proses belajar mengajar tidak jenuhkan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar