Minggu, 01 April 2012

DAMPAK TEORI MULTIPLE INTELLIGENCES DALAM PENDIDIKAN

DAMPAK TEORI MULTIPLE INTELLIGENCES DALAM PENDIDIKAN

Teori multiple intelligences atau kecerdasan ganda ditemukan dan dikembangkan oleh Howard Gardner seorang  profesor pendidikan dari  Harvard University, Amerika Serikat. Menurut Gardner, intelegensi adalah kemampuan untuk memecahkan persoalan dan menghasilkan suatu seting yang bermacam-macam dan situasi yang nyata.

Gardner menggolongkan adanya 9 inteligensi yang dipunyai manusia yaitu inteligensi linguistik, matematis-logis, ruang-visual, kinestetik-badani, musikal, interpersonal, intrapersonal, lingkungan, dan eksistensial. Inteligensi linguistik adalah kemampuan untuk menggunakan kata-kata dan dan berbahasa secara efektif baik secara oral maupun tertulis seperti yang dipunyai para pencipta puisi, editor, jurnalis, dan pemain sandiwara. Inteligensi matematis-logis lebih berkaitan dengan penggunaan bilangan dan logika secara efektif seperti dipunyai seorang matematikus, santis, programer, dan logikus. Inteligensi ruang adalah kemampuan untuk menangkap dunia ruang-visual secara tepat seperti dipunyai para pemburu, arsitek, dan dekorator. Inteligensi kinestetik-badani adalah keahlian menggunakan tubuh untuk mengekspresikan gagasan dan perasaan seperti pada aktor, atletik, penari, pemahat, dan ahli bedah. Inteligensi musikal adalah kemampuan untuk mengembangkan serta mengekspresikan bentuk-bentuk musik dan suara. Inteligensi interpersonal adalah kemampuan untuk menangkap dan membuat oembedaan dalam perasaan, intensi, motivasi, dan perasaan akan orang lain. Inteligensi intrapersonal adalah pengetahuan akan diri sendiri dan kemampuan untuk bertindak secara adaptif berdasarkan pengenalan diri. Inteligensi lingkungan adalah kemampuan yang berkaitan dengan pemahaman flora dan fauna, lingkungan hidup. Inteligensi eksistensial adalah kemampuan yang berkaitan dengan keberadaan manusia.

Menurut Gardner, dalam diri seorang terdapat kesembilan inteligensi tersebut.  Ada inteligensi yang lebih menonjol dan tidak menonjol. Inteligensi yang tidak menonjol dapat dikembangkan agar lebih optimal, salah satunya melalui pendidikan di sekolah.

Dampak Multiple Intelligences bagi Siswa yang Belajar
Menurut  Gardner, siswa lebih mudah memahami suatu pelajaran jika bahan pelajaran disajikan sesuai dengan kecenderungan inteligensi yang dimilikinya. Untuk itu, siswa akan sangat terbantu jika mereka memahami kecenderungan inteligensinya . Selanjutnya mereka dibantu untuk menggunakan cara belajar yang cocok.
Beberapa metode untuk mengerti inteligensi siswa, antara lain dengan cara : 1) tes intelidensi ganda; 2) mengamati reaksi siswa waktu guru mengajar dengan berbagai inteligensi ganda, 3) mengamati gerak dan aktivitas siswa di luar kelas; 4) nilai rapor dan portofolio kegiatan siswa.
Dengan berbagai perbedaan inteligensi siswa, maka sangat penting bagi guru untuk memberikan kebebasan siswanya belajar fisika dengan berbagai cara. Misalnya metode problem solving dalam fisika tidak cocok untuk beberapa inteligensi.

Dampak bagi Guru yang Mengajar
Dalam risetnya, Gardner menemukan bahwa guru kebanyakan lebih suka mengajar dengan metode yang sesuai dengan kecenderungan inteligensinya. Guru yang inteligensi matematis-logisnya bagus akan mengajar secara sistematis, rasional, dan logis. Berbeda dengan guru yang  kecenderungan inteligensi interpersonalnya menonjol,  akan menyukai pendekatan personal.
Jika menggunakan metode yang tidak cocok, kemungkinan bahan yang diajarkan sulit dicerna siswa, bahkan dianggap sebagai guru yang tidak disukai. Untuk itu guru perlu mengembangkan berbagai macam inteligensinya agar dapat mengajar dengan berbagai metode sesuai dengan inteligensi siswa-siswanya.

Dampak bagi Pengaturan Kelas/Sekolah
Suatu kelas yang menyesuaikan berbagai inteligensi mempunyai pengaturan yang dinamis, tidak tertata meja lurus dan guru di depan. Bila menggunakan model permainan, ruang kelas pun harus ditata ulang. Saat inteligensi musikal ingin ditonjolkan, maka ruang kelas pun harus ditata agar siswa lebih leluasa. Sesekali juga harus dibawa ke luar, agar kecerdasan lingkungan siswa lebih terasah.
Kurikulum pun disusun  kembali, bukan dengan model indoktrinasi. Siswa diberi kesempatan belajar dengan gaya belajar yang paling tepat. Sehingga mereka bisa menikmati pelajaran dengan senang, yang berakibat langsung dengan meningkatnya motivasi belajar mereka.

Kesimpulan
- Setiap siswa memiliki kecenderungan inteligensi/kecerdasan yang berbeda-beda
- Tugas guru mengetahui cara belajar siswa yang tepat sesuai dengan kecenderungan belajar yang dimiliki siswa

Sumber Bacaan
Suparno, Paul. 2004. Teori Inteligensi Ganda dan Aplikasinya di Sekolah. Yogyakarta : Kanisius
Suparno, Paul. 2007. Metodologi Pembelajaran Fisika Konstruktivistik dan Menyenangkan. Yogyakarta : Sanata Darma

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar