Rabu, 28 September 2011

BANTAHAN BUKU MATAHARI MENGELILINGI BUMI (bag. 1)

Oleh Ustadz Syamsu Alam Ardamansa

Pada Bulan Juni 2007 M yang lalu di gedung Al-Mukhsinin Al-Khaerat Palu Sulawesi Tengah dilaksanakan acara Bedah Buku. Judul Buku yang dibedah adalah "MATAHARI MENGELILINGI BUMI, Sebuah Kepastian Al-Qur'an dan As-Sunnah, serta bantahan terhadap teori Bumi Mengelilingi Matahari". Sebagai Nara Sumber utama ialah Ustadz Ahmad Sabiq bin Abdul Latif Abu Yusuf, penulis buku itu sendiri. Buku tersebut diterbitkan oleh Pustaka Al-Furqon (Ponpes Al Furqon Al Islami, Srowo-Sidayu-Gresik). Sebagai Nara Sumber kedua, selaku pembanding didatangkan dari Universitas Tadulako seorang dosen Jurusan Fisika. Acara bedah buku tersebut menarik perhatian berbagai kalangan karena judul buku yang dibedah tersebut seolah merupakan sesuatu yang baru. Ustadz. Syamsu Alam Ardamansa turut hadir sebagai peserta dalam acara itu dengan tujuan memberikan koreksi seperlunya. Pada kesempatan itu Ustadz Ardamansa menyerahkan sebuah makalah kepada panitia dengan harapan bisa dibacakan tetapi mungkin karena keterbatasan waktu maka tidak sempat dibacakan. Apa yang menarik dari buku Ahmad Sabiq? Berikut komentar ustadz Ardamansa:
Buku tersebut terbit dengan jumlah halaman 220 bolak-balik, cetakan keempat sebagai edisi revisi. Total isi berjumlah sembilan bab dilengkapi 78 rujukan daftar pustaka. Tetapi jumlah daftar pustaka yang ditampilkan tidak sebanding dengan isi buku. Terkesan Jumlah daftar pustaka lebih berbobot dari pada isi buku.
Apa kira-kira tujuan penulis menyajikan buku itu?
Ada 5 misi yang dikembangkan dalam buku itu; Ke lima misi itu pada dasarnya mengajak kaum muslimin berprilaku sesuai pola salafiyah. Sebagai contoh salah satunya, yakni: misi ke 5, mengajak kaum muslimin untuk memulai hidup baru dalam naungan manhaj (metode) Salaf Ahlus Sunnah wal Jama'ah. Alhamdulillah.

Niat kita adalah meluruskan isi buku bukan membantah. Jika pada judul bukunya digunakan kalimat ".......sebuah penafsiran berdasarkan Al-Qur'an dan As-Sunnah......" maka kita selaku Umat Muslim tidak perlu keberatan, no problem, karena kita diajarkan menghargai penafsiran atau pendapat siapa saja, sepanjang hal itu tidak bersifat penyesatan, penghinaan atau pelecehan. Tetapi disana tertulis kalimat "....sebuah Kepastian Al-Qur'an dan As-Sunnah......", ini kan merupakan kalimat penyesatan tanpa sadar. Bagaimana bisa ia pastikan, bukankah ia hanya menafsirkan atau hanya menyalin tafsiran orang lain lalu berkata ini sebuah kepastian Al-Qur'an dan As-Sunnah. Karena membawa nama Alqur'an itulah perlu kita koreksi, supaya diketahui oleh khalayak ramai bahwa dalam buku tersebut banyak terdapat kekeliruan yang dapat menyesatkan dan meremehkan kandungan Alqur'an sebagai kitab suci. Maka kepada khususnya Umat Muslim diserukan untuk melakukan tela'ah keritis terhadap isi buku itu sebelum menerima atau menolak pandangannya. Kepada umum non-Muslim yang telah membeli dan membaca buku itu; kami sampaikan maaf; sesungguhnya Alqur'an itu suci dan bersih dari cara berpikir Ahmad Sabiq yang terpola dalam penulisan buku itu. Jangan kiranya hal itu kemudian dijadikan bahan reference.
Sekalipun demikian usaha Utz Ahmad Sabiq tetap dihargai sebagai suatu upaya ijtihad sambil melakukan peninjauan kembali terhadap judul bukunya, sebagai bukti i'tiqad baiknya. Apa yang perlu disoroti dalam buku itu? Mari kita ikuti penjelasan oleh Utz Ardamansa selanjutnya.
Ya, karena judul buku berkaitan dengan isinya, maka isi buku itulah yang harus disoroti. Ada sejumlah kekeliruan dalam buku tersebut. Mulai dari kekeliruan mikro sampai kekeliruan makro.

Apa contoh kesalahan atau kekeliruan mikro itu?
Kekeliruan mikro biasanya dianggap sepele saja oleh penulis. Contohnya : penulisan kata "Alloh", seharusnya ditulis sesuai lafaz aslinya berbaris fathah. Tidak ada huruf "O" itu. Mengganti "Allah" menjadi "Alloh" adalah kesalahan fatal sebagai penghinaan tanpa sadar. Ketika dikoreksi dalam acara bedah buku itu, ternyata jawaban Ahmad Sabiq dalam melakukan penulisan buku itu, terkesan lebih mementingkan "kepuasan bathin dirinya dan kelompoknya", dari pada mengikuti keaslian lafaz "Alqur'an". Ulama mana dari kalangan salaf as-shalihiyn yang pernah mengajarkan adanya lafaz "O" itu? Inilah contoh kesalahan mikro dari pola pikir Ahmad Sabiq, yang berdampak tidak memurnikan ajaran Islam. Hal demikian jelas bertentangan dengan misi kedua dalam bukunya, "memurnikan syariat Islam dari segala bentuk syirik, bid'ah, dan pemikiran sesat". Bukankah mengganti kata "Allah" menjadi "Alloh" merupakan bagian dari menyisipkan "pemikiran sesat" yang tanpa disadari ?. Memang kita berusaha menuliskan penyebutan lafaz menurut kebiasaan dan kemampuan kita, tetapi penulisan jangan sampai merubah bunyi dasar lafaz asli. Sebagai contoh : kalangan Elit Arab di Palu kalau menyebut sabda Nabi SAW, begini bunyinya: "gaala Rasulullah", terdengar nada huruf "G". Tetapi tidak satupun dari mereka yang mengganti tulisannya sesuai bunyi yang mereka kehendaki. Kalau mereka tulis dalam Bahasa Indonesia tetap mengikuti lafaz aslinya yaitu: "Qaala". Huruf "Q" mengikuti huruf "Qaf". Ini yang kita sebut Ikhlash mengikuti keaslian lafaz Alqur'an.
Bersambung.......Bantahan MMB bag 2

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar