Selasa, 14 Agustus 2012

Mengapa Kita Bisa Minum Pakai Sedotan?


Minuman yang ber-“genre” dingin seperti es jeruk, es teh, dan es alpukat biasanya diminum dengan menggunakan sedotan. Tinggal sedot, maka cairan minuman yang tadinya ada di dalam gelas tiba-tiba bergerak naik ke mulut kita. Pernahkah Anda renungkan, mengapa kita bisa minum pakai sedotan? Mengapa cairan yang ada di gelas bisa naik ke sedotan dan terus naik sampai ke mulut kita?

Pada umumnya, orang awam beranggapan bahwa mulut memiliki kemampuan untuk melakukan gaya sedot yang dapat menarik cairan. Benarkah mulut memiliki kemampuan untuk “menarik” cairan? Jawabannya adalah tidak. Mulut tidak memiliki kemampuan seperti itu. Lho, bukankah mulut memang dapat menyedot cairan?

Mulut memang dapat menyedot cairan. Akan tetapi, kita perlu meluruskan makna “menyedot” yang sebenarnya. Kita akan membahasnya melalui artikel ini.

Gambar 1
Fakta pertama yang perlu Anda ketahui untuk memahami aktifitas “penyedotan” adalah adanya tekanan udara atmosfer. Perhatikan Gambar 1. Bumi kita dilingkupi oleh atmosfer udara yang sangat tinggi, hingga mencapai jarak sekitar 560 km di atas permukaan bumi. Atas pengaruh gaya gravitasi bumi, setiap lapisan atmosfer akan menindih lapisan atmosfer di bawahnya. Tindih-menindih ini menyebabkan terjadinya tekanan pada udara. Semakin dekat posisi udara dengan permukaan bumi, semakin besar pula tekanannya. Tekanan udara terbesar berada di permukaan laut, karena permukaan laut merupakan zona terrendah di bumi. Diketahui bahwa tekanan udara di permukaan laut adalah sekitar 101.000 pascal.

Udara memberikan tekanan ke segala arah. Udara juga menekan semua benda di permukaan bumi yang terhubung dengan atmosfer. Jadi, badan kita setiap hari mendapat tekanan dari udara, dari segala arah. Begitupula dengan mobil, pohon, rumah, dan air. Semuanya ditekan oleh udara dengan tekanan yang sangat besar.

Konsep penting yang perlu anda ketahui selanjutnya adalah bahwa setiap zat di alam ini cenderung bergerak dari zona bertekanan tinggi ke zona bertekanan rendah. Demikian halnya dengan udara. Udara di zona tertentu akan cenderung bergerak ke zona lain yang tekanannya lebih rendah. Hal inilah yang terjadi ketika kita menyedot cairan minuman.
Gambar 2
Perhatikan Gambar 2. Sedotan bertindak sebagai “pipa” penghubung antara cairan minuman dan rongga mulut kita. Cairan minuman sendiri tidak memiliki tenaga untuk bergerak naik ke mulut kita. Tenaga tersebut diberikan oleh udara atmosfer di sekitar gelas. Dan seperti yang telah disebutkan tadi, udara akan bergerak ke zona yang tekanannya lebih rendah. Zona apa yang tekanannya lebih rendah itu? Zona itu adalah rongga mulut kita.

Ketika kita menyedot minuman, sebenarnya yang kita lakukan hanyalah memperbesar ruangan rongga mulut. Membesarnya rongga mulut mengakibatkan tekanan di dalam rongga mulut tersebut menurun. Mengecilnya tekanan di dalam rongga mulut yang membesar itu diakibatkan oleh banyaknya ruang kosong di dalamnya. Mengecilnya tekanan di dalam rongga mulut lantas “mengundang” udara atmosfer untuk masuk ke dalamnya. Akan tetapi, karena udara atmosfer terhalang oleh cairan minuman yang ada di gelas, maka udara atmosfer hanya dapat mendorong cairan minuman itu untuk bergerak masuk ke mulut kita melalui sedotan.

Jadi, yang dilakukan mulut sebenarnya bukanlah menyedot, melainkan hanya membesarkan rongga mulut (memperkecil tekanan) sehingga udara luar dapat mendorong cairan minuman masuk ke dalamnya.

Prinsip penyedotan yang dijelaskan di atas juga terpakai dalam proses pernafasan. Kita dapat menghirup udara karena paru-paru kita mengembang sehingga tekanan di dalamnya mengecil dan mengundang udara luar untuk masuk.

Pertanyaan Renungan untuk Anda:
Menurut Anda, apakah kita bisa minum dengan menggunakan sedotan di permukaan bulan? 

Semoga bermanfaat.


*******
(Ditulis Oleh Doni Aris Yudono)
http://www.facebook.com/Yudha.On.7

Sumber Gambar:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar